Lukman Hakim Saifuddin : Agama dan Budaya Tidak Perlu Dipertentangkan

Budaya dan agama sejatinya merupakan dua hal yang tidak perlu dipertentangkan dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 04 November 2018  |  00:35 WIB
Lukman Hakim Saifuddin : Agama dan Budaya Tidak Perlu Dipertentangkan
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA – Budaya dan agama sejatinya merupakan dua hal yang tidak perlu dipertentangkan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Hal itu ditegaskan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk menanggapi 6 poin pemufakatan dalam Sarasehan Reaktualisasi Relasi Agama dan Budaya yang diselenggarakan di Bantul, Yogyakarta, Sabtu (3/11/2018).

Menurutnya, pengembangan budaya di Indonesia sudah seharusnya menghargai nilai-nilai prinsipil dalam agama.

“Dan sebaliknya pengembangan agama juga tidak semestinya mengakibatkan hancurnya keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat di Indonesia,” ungkap Lukman dalam keterangan resmi.

Dia menilai agama dan budaya selama ini telah berkembang secara harmonis dalam perjalanan sejarah panjang bangsa Indonesia. Keduanya telah bersama-sama mewariskan nilai, norma, dan etika yang terbukti berhasil mempersatukan keragaman masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Oleh karena itu, sambung dia, sikap membenturkan nilai dan norma agama dengan keragaman budaya Indonesia dapat merusak modal sosial dan modal kultural yang telah menjadi fondasi bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kami akan terus berupaya menghadirkan pendidikan agama dan budaya yang mampu menghasilkan anak Indonesia yang memiliki keyakinan bersama bahwa keragaman adalah anugerah Tuhan Yang Mahakuasa.”

Lukman Hakim juga mengatakan bahwa sejumlah catatan dari budayawan dan agamawan berikut ini akan menjadi perhatian serius pemerintah. Pemerintah menyatakan prihatin atas terjadinya gesekan di kalangan masyarakat terkait budaya dan agama.

Oleh karena itu, pemerintah menyerukan kepada para tokoh agama untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa tujuan akhir dari ajaran agama adalah untuk membentuk akhlak mulia, yang dengannya masyarakat berinteraksi sosial secara tertib, toleran, saling menghormati satu dengan lainnya, berperilaku sabar dan menahan diri, serta bersyukur atas anugerah keragaman bangsa Indonesia.

“Menyerukan kepada para tokoh budaya untuk terus mengembangkan produk-produk kebudayaan yang menghargai karakter dasar masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai religiositas,” ungkapnya.

Lukman Hakim mengatakan pemerintah juuga akan mendorong pengembangan model pendidikan yang dapat menciptakan jembatan antara relijiusitas, nasionalitas, dan etnisitas bangsa Indonesia.

Selain itu, pihaknya akan mendorong agar karya seni, karya sastra religiositas, serta artefak-artefak kebudayaan lokal dijadikan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dalam rangka membentuk kebanggaan atas identitas keragamaan dan kebudayaan bangsa Indonesia.

“Mendorong pemerintah dan para penyelenggara pendidikan untuk secara sistematis dan berkelanjutan menanamkan ajaran-ajaran moral dasar khususnya bagi anak-anak dan generasi muda tentang nilai kerjasama, tanggungjawab, kejujuran, disiplin, mandiri, dan ajaran untuk tidak menerima sesuatu yang bukan haknya.

Pemerintah pun, kata Lukman Hakim, menyerukan kepada semua pihak agar melakukan internalisasi nilai dan moral agama secara substantif, menghindari pemikiran diskriminatif terhadap tafsir keagamaan lain, menyadari bahwa keragaman adalah takdir dan anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia, serta menjadikan spiritualitas sebagai basis kemanusiaan dan kebudayaan yang otentik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
budaya, Lukman Hakim Saifuddin

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top