JKT Creative Kembangkan Komunitas Sosial Ibu-Ibu Penghuni Rusun

Perusahaan start-up bidang ritel souvenir Jakarta, yakni JKT Creative fokus memberdayakan ibu-ibu di rumah susun sewa untuk menghasilkan kerajinan tangan khas DKI Jakarta.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 25 Oktober 2018 20:16 WIB
Ibu-ibu warga rumah susun Pulogebang melakukan kegiatan membatik, Kamis (25/10/2018). - Bisnis/Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan start-up bidang ritel souvenir Jakarta, yakni JKT Creative fokus memberdayakan ibu-ibu di rumah susun sewa untuk menghasilkan kerajinan tangan khas DKI Jakarta.

 Koordinator Pemberdayaan dan Partnership JKT Creative, Satyantara Maesa mengatakan JKT Creative dokus memproduksi souvenir untuk dibuat oleh warga Jakarta, dalam hal ini adalah ibu rusun DKI Jakarta. JKT Creative menjual hasil produksi tersebut di Pondok Indah Mall Lantai 2 dekat Skybridge, dan Alun-Alun Grand Indonesia.

“JKT Creative ini memberdayakan ibu-ibu di DKI, juga para entrepreneur secara rutin. Selain membuka komunitas untuk para ibu di rusun, ada juga kelas kreatif untuk entrepreneur pemula di Jakarta. Kelas itu diisi oleh para ahli di bidang bisnis,” ujar Satyantara kepada Bisnis, Kamis (25/10/2018).

Sejauh ini menurut Satyantara, JKT Creative fokus menjual baju dan belum banyak menjual kain kecuali untuk pesanan klien secara business to business (BtoB). Ada beberapa penyebab sulitnya menjual batik dan kain dengan motif tradisional. Satyantara berpandangan, orang Indonesia pada umumnya mau membeli baju dari merek mahal seharga Rp700 ribu, tetapi belum tentu mau menghabiskan uang untuk membeli kain tradisional.

“Sepertinya penghargaan pada kain tradisional itu masih kurang, jadi kami kesulitan menjual batik karena masih seperti itu,” katanya.

Satyantara menyebut kegiatan kerajinan tangan di rusun oleh tim JKT Creative adalah upaya mendorong pemberdayaan perempuan, sekaligus membentuk komunitas sosial baru. Terbukti dari antusiasme para ibu dan pelatih yang kerap kali mengerjakan batik, sulam, rajut, ataupun menjahit, lebih dari jadwal yang ditentukan.

"Sehari biasanya 3 jam, tetapi kadang bisa 5 sampai 6 jam, baik si ibunya dan pelatihnya juga senang tak ada masalah,” tuturnya.

 Ada pun komunitas sosial yang tercipta melalui kegiatan ini akan mendorong ibu-ibu rusun lebih mandiri ke depannya. Ilmu menjahit, membatik, sampai menenun ini adalah modal sosial mereka untuk mendapatkan penghasilan. Ke depannya, Satyantara berharap, para ibu juga bisa punya kapasitas membuka usaha sendiri.

“Kadangkala orang membuat kegiatan pelatihan di rusun, lalu ditinggal. Sementara mereka perlu pendampingan maka perlu ada orderan untuk tetap bekerja, dan ke depannya mereka bisa menawarkan kemampuan mereka ke orang lain. Hal ini yang masih kami kerjakan, develop productnya,” sambung Satya.

Bisnis mencatat, dalam Laporan Empat Tahun Pemerintah Joko Widodo – Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan pemerintah serius mendorong kemandirian ekonomi, agar perempuan bisa mendapatkan perluasan akses dan kapasitas ekonomi perempuan akar rumput.

“Ada 3507 industri rumahan diperuntukkan untuk pelaku usaha,” kata Yohana.

 Ada pun 3.507 industri itu tersebar atas 46 desa atau kecamatan, 15 provinsi, 20 kabupaten/kota, dan 26 kecamatan.

Tag : rusunawa
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top