Ketika Ibu-Ibu Penghuni Rusun Mengisi Waktu dengan Membatik

Bagi para ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan rumah susun, tidak banyak bisa mereka lakukan sehari-hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus anak. Lantas bagaimana cara mereka mendapatkan penghasilan tambahan?
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 25 Oktober 2018 19:55 WIB
Ibu-ibu warga rumah susun Pulogebang melakukan kegiatan membatik, Kamis (25/10/2018). - Bisnis/Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Bagi para ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan rumah susun, tidak banyak bisa mereka lakukan sehari-hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus anak. Lantas bagaimana cara mereka mendapatkan penghasilan tambahan?

Kamis siang, (25/10/2018), Bisnis menghampiri rumah susun (rusun) Pulo Gebang di Jakarta Timur. Tepatnya di koridor Blok H, ada 13 ibu-ibu yang duduk lesehan diatas tikar yang digelar dekat RPTRA Rusun Pulo Gebang. Mereka ternyata sedang membatik.

Yayuk Purwanti (35) salah seorang penghuni rusun Pulo Gebang sejak 2013 bercerita sudah belajar membatik sejak Maret 2018. Ada pun pihak yang menggelar sesi membatik ini adalah perusahaan ritel souvenit JKT Creative. Yayuk mengaku, pihak JKT Creative sudah masuk dan menggandeng ibu-ibu rusun untuk membatik atau melakukan kesenian lain sejak 2017.

Yayuk tidak sendiri, sebagai salah seorang warga relokasi dari rusun Pulomas. Beberapa ibu rusun yang membatik adalah ibu-ibu yang direlokasi dari Pluit dan Kalijodo. Awalnya, mereka tentu kesulitan untuk memulai aktivitas di kawasan baru. Menruut pengakuan Sri Sunarsih (42) penghuni terlama di rusun Pulo Gebang menyebut sebagai salah satu anggota terlama dari komunitas ibu-ibu JKT Creative. Sebelum membatik, Sri sudah mulai mengerjakan sulaman sampai membuat tas.

 “Saya di rusun ini sewaktu masih kerja di Harapan Indah, Bekasi. Lalu saya hamil, pas pindah kesini, terus punya anak saya keluarga kerja baru ikut kegiatan ini ketika anak saya sudah 4 tahun. Selama 4 tahun saya fokus mengurus anak,” terang Sri kepada Bisnis.

Sebagai penghuni terlama sejak 2013, Sri mengaku ada banyak yang berubah di rusun Pulo Gebang. Misalnya saja, pertumbuhan rusun dari empat blok menjadi delapan blok. Di rusun Pulo Gebang juga semakin banyak jalur transportasi. Misalnya Transjakarta, sampai bus sekolah. Padahal dulunya, para penghuni harus berjalan kaki keluar dari rusun ke jalan utara.

“Sebelum ada kegiatan ini saya pun hanya mengurus anak. Belum bisa juga buka warung seperti sekarang, beberapa warung yang ada sekarang baru belakangan, bukan dari 2013,” tuturnya.

Salah satu ibu rusun yang juga menjahit, Sandhi Jayanti (30) menyebut biasanya ibu-ibu berkumpul untuk melakukan batik bersama pada Rabu dan Kamis. Hari Sabtu juga memungkinkan jika pelatih bisa hadir. Menurut Sandhi keinginan terbesar berkegiatan ini adalah membina relasi antar ibu-ibu rusun sekaligus menambah uang penghasilan mereka. Pada hari lain, ibu-ibu ini bisa melanjutkan membatik di rumah sampai selesai.

 “Jadi tidak Cuma makan-tidur, ada nyanting, ada kegiatan setiap hari. Ini menghasilkan lumayan, Alhamdulilah, buat jajan, buat jajan anak. Buat beli baju, beli tiket bus,” tutur Sandhi.

Jeanette (38) anggota komunitas ibu-ibu rusun yang membatik ini juga salah satu ibu yang direlokasi dari rusun Pluit. Dia menjelaskan, proses membatik ini mulai dengan gambar motif, lalu proses canting, selanjutnya adalah proses pewarnaan, dan direbus kainnya. Total lama pembuatan batik sekitar 10 hari.

 “Waktunya juga bisa lebih cepat, beda-beda, soalnya tergantung dari motif,” kata Jeannet.

 Pelatih ibu-ibu rusun Pulo Gebang, Tukhanah (34) menyebut pertama kali bisa membatik dan kerajinan lain setelah belajar lebih lama di rusun Marunda bersama JKT Creative. Ana menyebut, batik ini adalah pesanan mitra JKT Creative. Alhasil, jumlah batik yang dibuat tidak terlalu banyak dan motifnya sesuai pesanan dari klien JKT Creative.

 “Pertama kali, saya mengajarkan ibu-ibu cara memegang cantik. Lalu mengambil lilinya, karena awalnya pada panik dan supaya tidak menetes,” terang Ana.

Beberapa kesulitan yang dialami para ibu rusun belajar membatik misalnya; tetesan lilin, lalu memgikuti motif. Ana menilai kegiatan ini bisa terus menjadi peluang pemberdayaan ibu rusun, sehingga dia pun merasa bangga dan tak masalah menghabiskan waktu mengajarkan ibu-ibu pada rusun lain.

 

Tag : rusunawa
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top