IMF-WB Annual Meetings Dianggap Mewah, Pemerintah Diminta Ingat Korban Bencana

Menjamu delegasi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia atau IMF-WB dengan mewah, pemerintah diminta jangan tutup mata dengan korban bencana alam Lombok dan Sulawesi Tengah.
Jaffry Prabu Prakoso | 10 Oktober 2018 20:43 WIB
Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Abinsaid, Politisi PAN Desy Ratnasari, Ahli Ekonomi dan Strategi Pemerintahan Harryadin Mahardika, dan Ahli Ekonomi Politik Anthony Budiyawan dalam acara Diskusi Rabu Seru di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Rabu (10/10 - 2018).

Bisnis.com, JAKARTA – Menjamu delegasi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia atau IMF-WB dengan mewah, pemerintah diminta jangan tutup mata dengan korban bencana alam Lombok dan Sulawesi Tengah.

Pasalnya, korban gempa dan tsunami hingga saat ini masih belum teratasi semua dengan baik.

"Kami melihat momentum saat ini ada anggaran untuk pertemuan IMF di atas Rp800 miliar, ketika dikomparasikan ada masalah di Palu dan Lombok. Kita harus lebih memuliakan warga Lombok dan Sulteng," kata Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Abinsaid dalam acara Diskusi Rabu Seru di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Saat ini, kata Gamal, ada ratusan orang terkena penyakit malaria di Lombok pasca gempa bumi.

Oleh karena itu pemerintah seharusnya juga memberi hal yang sama pada korban bencana sehingga dengan mengurangi kemewahan pada acara internasional ini masyarakat Lombok bisa mendapat perawatan yang layak.

Gamal juga menyarankan pemerintah mengajak para delegasi pertemuan IMF-World Bank untuk mengunjungi Lombok dan Sulteng, agar mengetahui betul jika ada yang lebih membutuhkan anggaran besar.

"Kita bisa menikmati kemewahan saat saudara-saudara kita tengah di landa bencana. Coba ajak ke Palu dan Lombok para tamu IMF agar lihat," ucap Gamal.

Ahli ekonomi dan strategi pemerintahan, Harryadin Mahardika mengusulkan acara pertemuan tahunan IMF-World Bank dipindah ke Palu, Sulteng.

Tujuannya, agar pemerintah Indonesia peka terhadap warganya yang terkena bencana alam. "Ini usul yang baik," ujarnya.

Harryadin menyoroti pula besarnya anggaran yang dikeluarkan demi terselenggaranya acara pertemuan tahunan IMF-World Bank tersebut, dibandingkan untuk membangun rumah korban gempa Lombok.

"Pertemuan itu habiskan biaya Rp819 miliar, sementara 250 miliar bantuan untuk Lombok belum bisa dicairkan. Kenapa tidak Rp810 miliar itu dikurangi? Kenapa kamarnya enggak diturunkan bintang 4 dan hanya 6 juta/hari," ujarnya.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top