Gempa Donggala: Kapal Sabuk Nusantara 39 Tersedot Laut, Lalu Dihempas ke Dermaga

Beberapa saat setelah gempa bumi melanda Palu pada Jumat (28/9/2018), Charles Marlan, salah satu kru kapal KM Sabuk Nusantara 39 memiliki firasat aneh. Dia merasa kapalnya tersedot ke tengah laut, dia tahu tanda tsunami akan datang.
Aziz Rahardyan | 06 Oktober 2018 02:33 WIB
Warga berjalan di depan rumah mereka yang dihantam gempa dan tsunami di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, di dekat kapal feri yang terangkat dari lautan ke daratan. Gempa dan tsunami terjadi pada Jumat (28/9/2018) menjelang malam dan foto diambil pada Selasa (2/10/2018). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA — Beberapa saat setelah gempa bumi melanda Palu pada Jumat (28/9/2018), Charles Marlan, salah satu kru kapal KM Sabuk Nusantara 39 memiliki firasat aneh. Dia merasa kapalnya tersedot ke tengah laut, dia tahu tanda tsunami akan datang.

"Kapal berguncang dan semua yang ada di ranjang kami mulai jatuh," ungkap Marlan seperti dilansir Reuters, Kamis (4/10/2018).

Marlan dan awak kapal sebenarnya sudah tahu akan berada dalam kesulitan ketika merasakan tarikan air laut yang tiba-tiba surut. Setelah itu dari dermaga, orang-orang mulai berteriak tentang tsunami.

Benar saja, kapal KM Sabuk Nusantara 39 tersebut terseret ombak tsunami dan menghantam daratan, kemudian menabrak pemukiman di dermaga, dan akhirnya terdampar di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah.

"Aku bisa mendengar ombak datang," ujar Marlan menggambarkan mencekamnya suasana berada di dalam kapal.

Marlan menambahkan, orang-orang di dalam kapal bahkan tidak sempat berebut jaket penyelamat ketika gelombang setinggi lima meter tersebut mengempaskan mereka. Sebab menurut pengakuannya, gelombang menyeret kapal begitu cepat, bahkan para kru tidak sadar kalau mereka sudah terseret ke daratan. Beruntung, sejauh perkiraan Marlan tidak ada seorang pun di dalam kapal yang terluka.

"Yang penting kami selamat dan untuk itu kami harus bersyukur," ungkapnya.

Hingga seminggu pascakejadian, kapal tersebut masih berada di daratan yang telah mengering. Marlan dan 20 kru kapal masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pemilik kapal yaitu operator feri nasional.

Mereka masih beraktivitas di dalam kapal, bertahan hidup lewat suaka dari feri lain yang lewat, mengurus panggilan bergiliran, dan mengobrol dengan anak-anak korban bencana yang naik ke atas kapal.

Sumber : Reuters

Tag : Gempa Palu
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top