Gempa Palu: Tangis Haru Warnai Kedatangan Ribuan Korban Gempa di Makassar

Pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, proses evakuasi korban masih terus dilakukan. Hari ini Kamis (4/10/2018) sebanyak 1.609 korban gempa tiba di Makassar menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Makassar.
Andini Ristyaningrum | 04 Oktober 2018 19:24 WIB
Warga berusaha meninggalkan kota Palu untuk mengungsi melalui Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MAKASSAR – Pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, proses evakuasi korban masih terus dilakukan. Hari ini Kamis (4/10/2018) sebanyak 1.609 korban gempa tiba di Makassar menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Makassar.

Kedatangan para korban gempa disambut tangis haru. Tak hanya dari keluarga korban yang sejak kemarin menunggu kedatangan KRI Makassar, tetapi juga oleh para relawan. Bahkan tak sedikit petugas yang berjaga turut meneteskan air mata.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 jam, KRI Makassar akhirnya berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta sekitar pukul 12.45 WITA. Di antara penumpang kapal, tercatat ada sembilan orang sakit dan dua orang yang baru saja melakukan persalinan melahirkan.

Terminal kedatangan Pelabuhan Soekarno Hatta lebih padat dari biasanya. Para relawan juga terlihat sibuk mondar-mandir membagikan komsumsi untuk para korban yang baru saja turun dari kapal.

Salah seorang korban, Endang (43) tahun mengaku bersyukur bisa tiba dengan selamat di Makassar bersama 14 orang anggota keluarganya. Ibu tiga orang anak ini, merupakan warga Kelurahan Pantoloan, Palu.

"Kami tinggal di kawasan Pelabuhan Pantoloan, tidak jauh dari pusat terjadinya tsunami," kata Endang Kamis (4/10/2018).

Ia tak henti mengucap syukur, sebab seluruh anggota keluarganya selamat dari dahsyatnya gempa dan tsunami yang menerjang kota bejuluk Mutiara Khatulistiwa itu.

Endang mengatakan, saat gempa terjadi ia bersama suami dan tiga orang anaknya berada di rumah dan tengah bersantai. Ketika gempa yang berpusat di Kabupaten Donggala mulai mengguncang, mereka kemudian berlari keluar.

"Waktu itu kami nonton, anak saya juga sedang mandi. Saat gempa kami semua lari ke depan gedung bea cukai. Saat melihat sudah ada yang lain dari air laut, kami akhirnya memilih mengamankan diri ke gunung," kisah Endang.

Meski beberapa sanak saudaranya harus meregang nyawa akibat gempa dan tsunami itu, Endang hanya bisa mengikhlaskan semuany. Termasuk ketika harus kehilangan harta benda. Di Pelabuhan Soekarno Hatta, keluarga Endang yang berasal dari Kabupaten Pangkep sudah siap menjemput.

Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Soekarno Hatta, Rahmatullah, menjamin korban yang datang bisa ditangani dengan aman. Termasuk bagi korban gempa yang. mengalami sakit.

"Yang sakit langsung dibawa ke rumah sakit, sudah ada ambulans yang bersiaga. Korban yang tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal di Makassar semuanya diarahkan ke Asrama Haji yang merupakan posko pengungsian utama," kata Rahmatullah.

Bagi korban gempa yang memiliki keluarga di Sulawesi Selatan akan di arahkan enuju terminal kedatangan untuk bertemu keluarga yang sudah siap menjemput.

Seluruh akomodasi sudah disiapkan tim, mulai dari konsumsi hingga transportasi menuju Asrama Haji untuk menampung para korban. Penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke daerah lain juga akan dibantu.

"Untuk yang menggunakan jalur udara, tiketnya juga disiapkan. Koordinasi dengan semua pemerintah daerah sudah dilakukan," ungkap Rahmatullah.

Tag : Gempa Palu
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top