Wapres JK Serukan Reformasi PBB

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerukan reformasi PBB saat menyampaikan pidato pada sesi debat dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke-73  PBB di General Assembly Hall, New York, AS.
Lingga Sukatma Wiangga | 28 September 2018 10:59 WIB
Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, berbicara di Sidang Umum PBB ke-73 di New York AS, 27 September 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerukan reformasi PBB saat menyampaikan pidato pada sesi debat dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke-73  PBB di General Assembly Hall, New York, AS.

Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa masyarakat yang damai, adil, dan berkelanjutan secara global membutuhkan PBB yang lebih responsif, bertanggungjawab, dan kredibel. Oleh sebab itu, dia menilai reformasi PBB sangat diperlukan dengan tujuan yang jelas.

“Inilah sebabnya mengapa reformasi PBB tidak bisa dihindari. Kalau tidak, PBB akan usang dan tidak mampu menjawab kebutuhan dan tantangan hari ini dan esok,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Wakil Presiden RI, Jumat (28/9/2018).

JK menuturkan PBB harus diposisikan dengan lebih baik untuk membantu negara-negara yang menopang perdamaian dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pemerintah Indonesia juga menegaskan selalu siap untuk berkontribusi demi kemanusiaan.

Paparan tersebut didasari oleh makin kompleksnya tantangan global yang dihadapi, di mana ketidakstabilan dan konflik masih merajalela. Kemiskinan dan ketidaksetaraan ekstrim pun terus berlanjut, bahkan pemikiran zero-sum dan nasionalisme sempit sering berlaku.

Pemikiran zero-sum bisa diartikan sebagai situasi di mana setiap keuntungan atau hilangnya utilitas satu pihak diimbangi oleh kerugian atau keuntungan utilitas pihak lain, alias win-win/lose-lose.

“Demokrasi serta pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masih menjadi masalah sehari-hari dalam hidup kita,” ungkapnya.

Menurut JK, di saat seperti ini orang sering keliru menilai bahwa kepemimpinan hanya berarti memiliki kekuatan yang besar atau memiliki kekuatan pahlawan super. Padahal, tidak ada kepemimpinan yang efektif tanpa tanggung jawab yang tulus dan sebaliknya.

Kondisi dunia pun diyakini bisa berkembang ke arah yang lebih baik jika para pemimpin global bisa bersatu dan memanfaatkan kehendak, keberanian, kekuatan, welas-asih, ego, serta kerendahan hati masing-masing.

“Ini adalah inti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana kita semua percaya pada kekuatan dan kekuasaan mantra dalam Piagam PBB. Kita adalah bangsa Perserikatan Bangsa-Bangsa," tegasnya.

Tag : pbb, Wapres JK
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top