Menristekdikti: Hadapi Revolusi 4.0, Masyarakat Harus Siapkan ‘3O’

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan untuk menghadapi revolusi industri 4.0, masyarakat Indonesia harus mulai dengan cara memiliki 30 yakni open mind, open heart, dan open willing.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 15 September 2018 23:00 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir (kiri) - Bisnis.com/Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan untuk menghadapi revolusi industri 4.0, masyarakat harus mulai dengan cara memiliki ‘30’  yakni open mind, open heart, dan open willing agar tantangan di masa depan dapat diatasi dengan baik.

Hal tersebut diungkapkan Mohamad Nasir saat menjadi pembicara pada seminar nasional  yang mengangkat tema "Brand Yourself to be Young Success Technopreneur" di Politeknik Negeri Semarang pada Sabtu (15/9).

Nasir menjelaskan dengan jumlah penduduk lebih dari 262 juta jiwa, Indonesia berpeluang menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ketujuh dunia pada 2030 dan keempat dunia pada 2050.

Oleh karena itu, pendidikan tinggi diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi dengan mendorong lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan untuk mengatasi pengangguran terstruktur.

Dalam data persentase tenaga kerja Indonesia saat ini, ujarnya, 42% adalah angkatan kerja dengan pendidikan rendah, namun persentasenya akan terus menurun, artinya pendidikan lulusan mulai berubah dan menjadi lebih baik.

Adapun untuk bonus demografi, menurutnya, manakala tidak dimanfaatkan dengan baik, akan menjadi malapetaka.

Oleh karena itu, dia menegaskan peningkatan kompetensi SDM amat penting. “Maka itu, pendidikan harus cocok dengan industri, agar daya saing bangsa meningkat, selain tentunya juga technology readiness level harus ditingkatkan. Kalau rendah, inovasi rendah pula," ungkapnya melalui keterangan resmi.

Nasir juga menuturkan bahwa ekonomi digital mengambil peranan penting. Contoh paling terlihat adalah  konsep sharing economy yang dilakukan gojek dan ekspansinya ke luar negeri, maupun marketplace seperti Bukalapak.

Oleh karena itu, dia berharap agar para lulusan perguruan tinggi harus siap menghadapi tantangan era digital dan memiliki bakat digital.

"Muncul teknologi baru yang mengakibatkan perubahan luar biasa di semua disiplin ilmu, ekonomi, dan industri. 75% pekerjaan melibatkan kemampuan sains, teknologi, teknik dan matematika, internet of things, oleh karenanya lulusan perguruan tinggi harus siap untuk digital challenge dan memiliki digital talent," pesannya.

Tak lupa mantan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Semarang ini juga mengatakan  bahwa di dunia industri saat ini harus selalu membawa tiga pemikiran yakni good things, making good products, and making people then making products.

Konsep pembentukan SDM tersebut harus dijalankan untuk menghadapi persaingan di era revolusi industri 4.0, terutama untuk mencapai link and match dengan dunia industri.

"Yang tak kalah penting adalah memahami literasi baru. Literasi lama [membaca, menulis, dan berhitung] sebagai modal sudah didapatkan. Sekarang harus belajar literasi baru, yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia [humanities, komunikasi, berpikir positif]. Setelah itu lakukan belajar sepanjang hayat," katanya menegaskan.

Tag : Revolusi Industri 4.0
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top