Berdayakan Keluarga Anak Jalanan Melalui Sociopreneur

Permasalahan sosial anak jalanan di Semarang menjadi perhatian khusus bagi Dynamic Learning, startup socioprenuer berbasis pendidikan karakter dan ekonomi yang dikembangkan mahasiswa dari berbagai univeritas di ibu kota Jawa Tengah itu.
Syaiful Millah | 07 September 2018 09:17 WIB
Ilustrasi anak jalanan - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Permasalahan sosial anak jalanan di Semarang menjadi perhatian khusus bagi Dynamic Learning, startup socioprenuer berbasis pendidikan karakter dan ekonomi yang dikembangkan mahasiswa dari berbagai univeritas di ibu kota Jawa Tengah itu.

Pelaksana Tugas CEO Dynamic Learning, Osadhani Rahma Pemila, mengatakan kasus anak jalanan memiliki keterkaitan dengan kondisi ekomoni keluarga.

“Setelah diteliti, ternyata kondisi ekonomi yang buruk menjadi faktor utama. Bahkan, beberapa orang tua menyuruh anaknya untuk mengemis atau mengamen di jalanan,” katanya kepada Bisnis.com.

Dynamic Learning dibentuk dengan tujuan memberi motivasi dan pendidikan kepada anak jalanan, karena banyak dari mereka yang putus sekolah. Bahkan, beberapa di antaranya memilih tidak sekolah meski sudah disekolahkan oleh orang tuanya.

Osa, panggilan akrabnya, mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan telah membuahkan hasil. Beberapa anak didiknya mulai kembali bersekolah, tidak lagi turun ke jalan.

Dynamic Learning juga memberikan pelatihan kepada orang tua dalam bentuk pembekalan materi dan praktik usaha kecil seperti pembuatan aksesoris dari barang bekas dan bolu kukus dengan rasa dan varian yang beragam.

Osa menambahkan aksesoris dan bolu kukus tersebut dipasarkan melalui media sosial Dynamic Learning.

Kerja keras anggota Dynamic Learning membawa mereka ke kompetisi ide bisnis Asean Startup Accelerator di Kaplan University, Singapura, pada 2017.

Dalam kompetisi tersebut, Dynamic Learning memperoleh gelar best pitching, mengalahkan 67 finalis lainnya dari berbagai negara di Asean.

Startup sociopreneur ini juga memenangi kompetisi serupa bertajuk Edge Hackathon di Singapura pada September 2017. Pengalaman tersebut memberi Dynamic Learning ide-ide baru untuk mengembangkan program ke arah yang lebih baik.

“Setelah pulang dari Singapura, kami ingin kegiatan ini lebih berkembang. Caranya, kami bekerja sama dengan berbagai komunitas dan UMKM. Selain itu, kami sedang membuat marketplace untuk menjual produk warga binaan,” kata Osa.

Dia menambahkan pembuatan marketplace ini dinilai perlu sebagai wadah dan sarana dalam memasarkan produk ke lingkup yang lebih luas, sehingga bisa membantu memperbaiki kondisi perekonomian warga binaannya.

Hingga saat ini, Dynamic Learning memiliki binaan di berbagai daerah yaitu Semarang, Yogyakarta, dan Klaten. Warga binaan terdiri atas anak jalanan, anak putus sekolah, ibu rumah tangga, dan bekas narapidana.

Tag : anak jalanan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top