Pola Asuh: Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Teriakan dan Kekerasan

Mengajarkan kedisiplinan kepada anak dengan menerapkan pola asuh positif harus dimulai sejak dini, ketika si kecil masih berusia di bawah 5 tahun. Sebab pada usia tersebut anak mulai menyerap pengetahuan dengan mengeksplorasi dan mencari tahu berbagai hal.
Pola Asuh: Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Teriakan dan Kekerasan Dewi Andriani | 26 Agustus 2018 10:40 WIB
Pola Asuh: Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Teriakan dan Kekerasan
/focusforwardcc.com

Mengajarkan kedisiplinan kepada anak dengan menerapkan pola asuh positif harus dimulai sejak dini, ketika si kecil masih berusia di bawah 5 tahun. Sebab pada usia tersebut anak mulai menyerap pengetahuan dengan mengeksplorasi dan mencari tahu berbagai hal.

Ini menjadi saat yang tepat bagi orang tua untuk menstimulasi serta menanamkan nilai-nilai positif dan nilai keagamanan sebagai fondasi awal kepada anak. Dengan demikian, ketika dewasa anak akan memiliki imun yang baik terhadap dirinya sendiri sehingga tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan.

Namun kadang kala mengajarkan anak untuk disiplin bukanlah perkara mudah. Akan banyak ‘drama’ yang dihadapi orang tua ketika mengajarkan perilaku teratur kepada anak. Sebab, balita biasanya sulit diatur dan sering kali bersikeras pada hal yang diinginkannya.

Gisella Tani Pratiwi, psikolog anak dan remaja dari Yayasan Pulih, mengatakan bahwaa untuk mendidik anak balita, orang tua harus bisa melakukannya dengan menerapkan disiplin positif pada anak tanpa harus mengekangnya secara berlebihan.

Orang tua dapat membantu anaknya mengembangkan prilaku teratur yang telah disepakati bersama tanpa harus menggunakan cara kekerasan atau ancaman. Pasalnya, ketika orang tua menanamkan kedisiplinan dengan ancaman maka anak tidak akan mendengarkan apa yang disampaikan.

Menanamkan kebiasaan baik kepada anak bisa dengan penjelasan verbal seperti diskusi secara terbuka, atau dengan memberikan contoh dari orang sekitar.

Ketika berkomunikasi dengan si kecil, orang tua dapat menggunakan analogi cara berpikir anak. Sebab, si kecil biasanya memerlukan proses yang lebih panjang saat mengaitkan beberapa hal.

Ini Kunci Agar Indonesia Jadi Barometer Modest Fashion Dunia

Di samping itu, orang tua juga dapat memberikan pemahaman kepada anak mengenai prilaku yang boleh dan tidak boleh secara nyata dengan memberikan penjelasan logis.

“Penjelasan logis yang memiliki alasan, sebisa mungkin alasannya berkaitan dengan dirinya. Misalnya ketika mengajak anak untuk mandi berikan alasan karena dengan mandi badan menjadi sehat dan segar,” ujarnya.

Ketika telah membuat peraturan, orang tua juga harus konsisten dan tegas sehingga anak tidak memiliki celah untuk mencari alasan. Di samping itu, orang tua juga bisa memberikan contoh nyata sebab anak akan melakukan apa yang sering dilihatnya.

Menanamkan nilai-nilai tersebut juga bisa melalui buku cerita, dongeng, atau menonton film singkat mengenai kebiasaan baik yang bisa menjadi contoh dan diterima oleh anak. “Semua dapat dilakukan dengan jalinan komunikasi yang hangat dan konsisten dalam menerapkan atau menyampaikan sesuatu.”

Kita juga harus memahami bahwa kedisiplinan merupakan bentuk pengajaran bukan hukuman. Jika anak membuat kesalahan, orang tua tidak lantas harus menghukumnya, biarkan anak melakukan kesalahan agar dia mampu belajar dari kesalahan. Sesudah itu, tugas orang tua untuk menyampaikan konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan agar ke depan anak tidak mengulanginya lagi.

Sebaliknya, ketika anak berhasil dengan pencapaiannya, orang tua dapat memberikan penghargaan sehingga membuatnya lebih bersemangat. “Kedisiplinan harus dilakukan secara konsisten, sabar, dan bertahap.”

 

TIME OUT

Bagaimana jika si kecil terus bersikap keras dengan memukul, merengek, atau menentang? Selain melakukan kompromi, orang tua dapat menerapkan hukuman dengan cara time out atau membiarkanya berdiam diri sejenak. Hal ini akan lebih baik daripada memarahinya.

Psikolog anak dan dewasa dari Rumah Sakit Royal Progress Nadia Rachman mengatakan bahwa waktu yang dibutuhakan dalam hukuman semcam ini disesuaikan dengan usia anak.

Ketika dia berusia 2 tahun maka waktunya 2 menit, usia 3 tahun waktu untuk time out 3 menit, dan seterusnya. Agar time out dapat berfungsi secara efektif, orang tua harus benar-benar dapat mengelolanya secara benar.

“Saat dia berdiam diri itu, si kecil diminta untuk merenungi kesalahan yang dilakukannya sehingga bisa menjadi pelajaran untuknya dikemudian hari. Selama time out, orang tua tidak boleh berbicara pada anak biarkan anak merenungi sendiri kesalahannya,” ujarnya.

Setelah selesai, orang tua bisa mencium dan memeluk sambil menanyakan pelajaran apa yang didapatkan ketika berdiam diri. Berbicaralah secara perlahan sehingga anak dapat menyampaikan keluh kesahnya kepada anak.

Di samping itu, orang tua juga tidak bisa memberlakukan time out terlalu sering. Harus ada kompromi dan kesepakatan bersama pada saat kapan time out diberlakukan. Misalnya ketika anak memukul atau berteriak pada anak-anak lain.

Saatnya Buru Lagi Kaos Unik Disney Uniqlo

Jika orang tua mendisiplinkan anak dengan cara kekerasan, dikhawatirkan justru akan menimbulkan trauma pada anak.

Selain itu, daripada melarang anak untuk melakukan ini dan itu, lebih baik orang tua menyampaikan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan sambil terus mengawasi. Dengan demikian, anak akan belajar tentang sebab akibat.

“Jika dilarang yang ada anak malah tidak berani untuk belajar. Padahal selama masa balita merupakan masa-masa di saat anak ingin belajar dan mencari tahu mengenai berbagai hal,” ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top