Pelambatan Rotasi Bumi Picu Gempa? Ini Tanggapan Akademisi & Praktisi

Karena suatu prediksi suatu metode itu akurat atau enggak kan perlu pembuktian.
I Ketut Sawitra Mustika | 21 Agustus 2018 13:53 WIB
Masjid Jabal Nur yang rusak akibat gempa bumi di Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Dua orang ilmuan telah memperingatkan tahun ini jumlah gempa besar akan meningkat karena adanya pelambatan rotasi bumi, demikian paper yang disusun oleh Roger Bilham dari Universitas Colorado dan Rebecca Bendik dari Universitas Montana.

Akademisi yang perhatian terhada isu kegempaan asal Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Sarwidi mengatakan, prediksi tersebut masih membutuhkan pembuktian.

"Karena suatu prediksi suatu metode itu akurat atau enggak kan perlu pembuktian. Ini kan 2018 belum selesai. Nanti [jika 2018 sudah berakhir] dibandingkan dengan tahun lalu dan tahun sebelumnya, apakah gempanya lebih besar atau tidak?" jelas Sarwidi ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (20/8/2018).

Kaitan antara rotasi bumi dan aktivitas seismik disampaikan dalam paper yang disusun oleh Roger Bilham dari Universitas Colorado dan Rebecca Bendik dari Universitas Montana. Kajian ini dipresentasikan pada pertemuan the Geological Society of America pada 2017 lalu.

Dua orang ilmuan ini percaya variasi kecepatan rotasi bumi dapat memicu aktivitas seismik yang hebat, terutama di wilayah tropis dengan populasi padat. Meskipun fluktuasi rotasi sangat kecil, mengubah panjang hari hanya dalam hitungan milidetik, tapi tetap bisa menyebabkan pelepasan energi bawah tanah yang besar.

Sarwidi mengaku baru mengetahui ada penelitian mengenai pelambatan rotasi bumi dan hubungannya dengan kegiatan seismik. Jika ada korelasi positif dan penelitian itu sudah didiskusikan di forum ilmiah, ia menyatakan kajian tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

"Kalau mau membuktikan yang ya harus ngitung. Pada 2013 gempanya lebih besar atau kecil dari yang terjadi di 2012 dan 2014. Saya menunggu studi sejenis supaya ada pembanding. Ada enggak yang kesimpulannya sama. Sebagai seorang ilmuwan, secara logika bener enggak lima tahun kayak gitu," jelas Sarwidi.

Sarwidi menyebut angka lima tahun karena Bilham dan Bendik menyimpulkan, periode melambatnya rotasi bumi terjadi sekitar lima tahun. Periode tersebut biasanya disertai dengan peningkatan jumlah gempa besar.

Sarwidi mengatakan, memprediksi gempa memang bisa dilakukan dengan melihat statistik. Tapi, itu pun hanya sebatas prediksi yang tetap saja bisa salah. "Musim lalu misalnya ada bangau lima, dulu empat. Kemarin ada lima. Besok berarti ada lima bangau. Tapi itu hanya kemungkinan."

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jogja BMKG DIY I Nyoman Sukanta mengungkapkan, setiap peneliti selalu punya dasar yang kuat dalam membangun pernyataan. Tapi, sama seperti Sarwidi, ia menyatakan perlu ada pembuktian lebih lanjut.

Waktu tepat terjadinya gempa bumi, kata Nyoman, hingga kini belum bisa diprediksi, karena belum ada teknologi yang mampu. Tapi, meski begitu sumber-sumber gempa bumi sudah dipetakan dengan cukup baik oleh para ahli.

"Daerah batas lempeng dan sesar lokal merupakan sumber-sumber gempa yang dapat terjadi gempa kapan saja. Untuk itu masyarakat harus dapat menyadari potensi bencana gempa di wilayahnya sehingga dapat melakukan mitigasi dengan baik agar risiko korban jiwa dan kerugian harta benda dapat diminimalisir," jelas Nyoman.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Tag : gempa
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top