China Mulai Investigasi Anti-Dumping Impor Stainless Steel

China memulai investigasi anti-dumping untuk impor baja nirkarat (stainless steel) yang senilai US$1,3 miliar pada Senin (23/7/2018). Hal itu dilakukan setelah Kementerian Perdagangan China menerima keluhan bahwa impor stainless steel merugikan industri lokal Negeri Panda.
Dwi Nicken Tari | 24 Juli 2018 17:00 WIB
ilustrasi - Reuters/William Hong

Kabar24.com, JAKARTA – China memulai investigasi anti-dumping untuk impor baja nirkarat (stainless steel) yang senilai US$1,3 miliar pada Senin (23/7/2018). Hal itu dilakukan setelah Kementerian Perdagangan China menerima keluhan bahwa impor stainless steel merugikan industri lokal Negeri Panda.

Kementerian Perdagangan China mengumumkan, investigasi tersebut akan menargetkan impor billet stainless steel, hot-rolled stainless steel, dan plat stainless steel dari perusahaan di Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia yang jumlah impornya meningkat tiga kali lipat pada tahun lalu.

Selain itu, perusahaan stainless steel China yang beroperasi di luar negeri juga tidak akan terhindar dari investigasi tersebut. Tsinghan Stainless Steel, produsen stainless steel teratas dunia milik China yang dioperasikan di Indonesia, serta 19 trader yang mengimpor produk stainless steel juga akan diinvestigasi.

Adapun, beberapa perusahaan China telah mulai membuka pabriknya di Indonesia beberapa tahun terakhir karena Indonesia memiliki sumber nikel yang banyak dan biaya produksi yang rendah. Hasil produksinya pun tidak sedikit yang dijual ke China.

Oleh karena itu, Shanxi Taigang Stainless Steel yang ditopang oleh empat perusahaan BUMN China mengeluhkan rendahnya harga stainless steel yang diimpor telah memukul harga produksinya.

“Impor yang meningkat tajam telah merusak pasar China,” tulis berkas keluhan Shanxi Taigang yang dirilis bersama dokumen dari Kementerian Perdagangan, seperti dikutip Reuters, Selasa (24/7/2018).

Hampir dua-per-tiga impor stainless steel berasal dari Indonesia pada tahun lalu, sebesar 86% atau naik dari level 5% pada 2016.

Harga stainless steel impor di China pun turun 23% menjadi US$1.867 per ton pada 2017 dari US$2.436 pada tahun sebelumnya.

“Jika kita mengizinkan produk ini memasuki pasar China dengan harga murah dan mengambil pembagian pasar, penjualan produk domestik China akan terus melemah,” tulis berkas keluhan tersebut.

Adapun China merupakan konsumen dari setengah produksi stainless steel global, yang digunakan untuk menjaga bangunan, kendaraan, dan paketan dari korosi.

Peter Peng, Konsultan Senior di CRU di Beijing, menilai investigasi ini murdi didorong oleh perselesihan antara BUMN dan industri swasta China yang berkempang pesat.

“Oleh karena biaya produksinya rendah, produk dari perusahaan swasta lebih kompetitif ketimbang produksi China,” ujarnya.

Adapun Tsingshan membuka pabriknya di Indonesia pada tahun lalu dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 3 juta ton. Sementara itu, perusahaan swasta China lainnya, Delong Holdings, juga berencana membuka produksinya di Indonesia pada tahun depan.

“Pajak anti-dumping akan mendorong pabrik-pabrik itu untuk mencari pasar lain,” imbuh Peng.

Lebih lanjut, perusahaan Eropa yang ditargetkan oleh investigasi tersebut adalah Acerinox dari Spanyol, Outokumpu Oyj dari Finlandia, dan Aperom dari Luksemburg.

Sementara pabrikan Jepang yang dibidik adalah Nisshin Steel Co Ltd., Nippon Steel & Sumitomo Metal Corp., dan JFE Steel Corp.

Dari Indonesia, PT Jindai Stainless dan Posco (milik Korsel) juga terdapat di dalam daftar.

“Kami sedikit terkejut dengan langkah ini dan akan segera menganalisis situasi,” ujar Matteo Rigamonti, Direktur Khusus Baja di Asosiasi Industri Eropa Eurofer.

Dia mengungkapkan, Eropa hanya mengekspor sekitar 22.000 ton yang terdiri dari billet stainless steel dan plat panas stainless steel pada 2017. Jumlah tersebut turun dari ekspor sebesar 50% pada 2015.

Pada 2017, China mengimpor sebesar 703.000 ton produk stainless steel, atau naik hampir 200% dari tahun sebelumnya. Adapun 98% dari impor tersebut berasal dari negara-negara yang ditargetkan di dalam investigasi.

Sementara itu, Shanxi Taigang hanya dapat berkontribusi atas 25%-35% untuk kebutuhan stainless steel di China. 

Tag : industri baja, ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top