PERANG DAGANG CHINA-AS: Peternakan Babi di AS Jadi Korban

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai berdampak terhadap peternakan babi, yang menjadi salah satu produk ekspor dari AS.Sebelum perang dagang dimulai, sembilan dari sepuluh kepala dan kaki babi peternakan AS diekspor ke China. Produk babi lainnya yang disebut jeroan juga sering dijual ke China seperti jantung, lidah, perut, dan tetelan lainnya.
JIBI | 18 Juli 2018 11:40 WIB
Peternakan babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai berdampak terhadap peternakan babi, yang menjadi salah satu produk ekspor dari AS.

Sebelum perang dagang dimulai, sembilan dari sepuluh kepala dan kaki babi peternakan AS diekspor ke China. Produk babi lainnya yang disebut jeroan juga sering dijual ke China seperti jantung, lidah, perut, dan tetelan lainnya.

“Sekarang peluang laba untuk produk yang sering disebut sebagai jeroan ini mulai menurun cepat setelah China mengenakan dua tarif tambahan hingga 50 persen,” begitu dilansir Reuters, Selasa (17/7/2018).

“Ini memaksa para peternak menjual bagian-bagian jeroan ini untuk pengolahan produk makanan piaran dan makanan ternak.”

Jeroan babi merupakan produk yang digemari di China, karena sesuai dengan selera kuliner dan harga jualnya cukup tinggi.

“Anda sering mendengar produk jeroan-lah yang membuat peternakan AS bisa terus beroperasi,” kata Erin Borror, seorang ahli ekonomi dari Federasi Ekspor Daging AS, yang merupakan bagian dari grup perdagangan.

Pengapalan produk sampingan babi turun hingga sekitar 30 persen pada April dan Mei 2018 ketika Cina mulai menerapkan tarif 25 persen pertama pada April 2018.

Kementerian Pertanian AS mencatat Beijing mengenakan tambahan tarif 25 persen untuk produk babi pada 6 Juli 2018 ketika kedua negara mulai mengenakan tarif $34 miliar atau sekitar Rp490 triliun. Kementerian Pertanian enggan menanggapi soal turunnya ekspor babi dan produk sampingannya ini.

Presiden Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor 10-25 persen untuk berbagai produk Cina dengan tujuan mengurangi defisit perdagangan sebanyak US$335 miliar atau sekitar Rp4800 triliun dengan Cina.

Produk jeroan babi sangat digemari di China karena cita rasa kuat yang menjadi kesukaan warga. Kuliner kaki babi dengan kacang putih direbus menjadi kesukaan warga di Provinsi Sichuan, yang menjadi salah satu pusat kuliner di China.

Kaki belakang babi juga tidak laku untuk diekspor ke berbagai negara karena berlobang akibat proses pengolahannya. Namun,”Dari bernilai nol di luar China, kaki belakang babi ini menjadi bernilai signifikan di sana,” kata Dermot Hayes, seorang ekonom bidang pertanian di Iowa State University.

Karena Cina sedang bermasalah dengan AS dalam urusan perdagangan, negara Tirai Bambu ini bisa mengimpor babi dari Eropa, yang harganya sedang turun pada dua tahun terakhir.

Selain itu, suplai dalam negeri juga sedang naik dengan bertambahnya peternakan baru. “Cina tidak akan kesulitan soal ini,” kata Ken Maschchoff, ketua The Maschhoffs, yang merupakan produsen daging babi milik keluarga terbesar di AS.

Seperti diberitakan Euronews, AS tidak hanya terlibat perang dagang dengan Cina, tapi juga dengan Uni Eropa, Kanada dan Meksiko terkait produk baja dan aluminium.

Amerika mengenakan tarif masing-masing 25 dan 10 persen untuk baja dan aluminium, yang membuat negara mitra dagang membalas dengan menaikkan tarif impor produk dari AS seperti jeans, produk pertanian, dan motor Harley Davidson.

 

Sumber : Tempo

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top