GII 2018: China Sukses Lakukan Lompatan Inovasi

China masuk dalam jajaran 20 besar negara paling inovatif di dunia, dengan menempati urutan ke-17 dalam Global Innovation Index (GII) 2018.
David Eka Issetiabudi | 13 Juli 2018 18:45 WIB
Ilustrasi: Baterai untuk kendaraan listrik diproduksi di pabrik Dongguan, China, 20 September 2017. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - China masuk dalam jajaran 20 besar negara paling inovatif di dunia, dengan menempati urutan ke-17 dalam Global Innovation Index (GII) 2018.

Masuknya China, menambah jumlah negara Asia yang berada dalam top 20 GII. Singapura, Korea Selatan, Jepang dan Hong Kong sudah lebih dulu masuk dalam 20 negara paling inovatif di dunia.

Untuk top 10 besar negara paling inovatif, GII 2018 menempatkan Swiss di urutan pertama, disusul Belanda, Swedia, Inggris, Singapura, Amerika Serikat, Finlandia, Denmark, Jerman serta Irlandia.

China melompat lima tingkat dari posisi 23 pada GII 2017 menjadi urutan ke-17 pada laporan tahun ini. Negara lain yang mengalami peningkatan inovasi adalah Israel yang menduduki posisi 11, tahun sebelumnya berada di posisi 17.

Australia juga masuk dalam jajaran 20 besar negara paling inovatif di dunia, dengan menempati posisi 20. Padahal, tahun lalu, Negeri Kanguru menempati posisi 23.

Direktur Eksekutif INSEAD Bruno Lavvin mengatakan memang terlihat jelas bahwa negara dengan penghasilan tinggi menempati posisi teratas dalam inovasi. Akan tetapi, terlihat pula peningkatan inovasi di negara berpenghasilan menengah banyak terjadi.

"Tapi, dari itu semua, hal yang spektakuler datang dari China. Kalau kita lihat, kualitas inovasi China meningkat tinggi. Mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada Amerika Serikat," katanya, dalam video konferensi pers GII 2018 yang diunggah WIPO, 10 Juli lalu.

Tema GII 2018 Energizing the World with Innovation diangkat untuk melihat kebutuhan akan kinerja inovatif di sebuah negara yang diperluas dalam teknologi ramah lingkungan di tengah meningkatnya permintaan energi di dunia.

Pada 2040 mendatang, dunia memerlukan hingga 30% lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan saat ini.

"Inovasi jelas diperlukan untuk mengatasi permasalahan energi atau lingkungan, tetapi marilah kita ingat bahwa inovasi tersebut tidak hanya teknologi. Model sosial, ekonomi dan bisnis baru diperlukan, termasuk melalui upaya untuk mempromosikan kota pintar, solusi mobilitas berdasarkan berbagi kendaraan - dan warga global dengan informasi yang lebih baik tentang dampak berbagai kebijakan energi," ujarnya.

Indonesia Naik Dua Peringkat

Indonesia masih berada di urutan ke-85, atau naik dua peringkat dari Global Innovation Index 2017. Posisi Indonesia masih di bawah, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darusalam, serta Filipina.

Laporan GII 2018 yang dirilis tiap tahun oleh Cornell University, INSEAD and the World Intellectual Property Organization (WIPO) ini memperlihatkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur serta Oceania menempati rerata nilai 44, di bawah negara kawasan Amerika Utara (56), dan Eropa (47).

Diterbitkan setiap tahun sejak 2007, GII dianggap menjadi tolak ukur terkemuka bagi para eksekutif bisnis, pembuat kebijakan, dan lainnya yang mencari wawasan tentang keadaan inovasi di seluruh dunia.

Tag : inovasi, china
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top