Cawapres Jokowi: Basis Elektoral Mahfud MD Dipertanyakan

Secara elektoral mantan Ketua Mahkamah Konstitusi bernama lengkap Mahfud Mahmodin ini dinilai tidak memiliki basis elektoral yang mantap.
Newswire | 12 Juli 2018 09:59 WIB
Pakar hukum Tata Negara Mahfud MD saat menghadiri rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Pansus Angket KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/7). - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Mahfud MD disebut lembaga survei sebagai kandidat terkuat untuk menjadi calon wakil presiden pendamping Jokowi pada Pilpres 2019.

Namun, secara elektoral mantan Ketua Mahkamah Konstitusi bernama lengkap Mahfud Mahmodin ini dinilai tidak memiliki basis  elektoral yang mantap.

"Pak Mahfud itu orang cerdas dan lurus, namun secara elektoral masih dipertanyakan," ujar Abi Rekso, pengamat politik Indonesian Watch Democracy, di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Abi mengatakan fakta bahwa Mahfud pernah berada di kubu Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 adalah hal biasa dalam politik.

Hal itu tidak akan memengaruhi dukungan partai koalisi Jokowi terhadapnya karena politik selalu membuka peluang tersebut. Bahkan, lanjut dia, Prabowo sendiri juga pernah berkoalisi dengan kubu PDIP.

Persoalannya, menurut Abi, basis elektoral Mahfud yang masih dipertanyakan.

Ia menekankan latar belakang Mahfud adalah seorang akademisi bukan politikus dan yang bersangkutan tidak pernah memimpin organisasi besar.

"Dia hanya orang yang pernah menduduki jabatan eksekutif dan yudikatif. Itu kan pengangkatan [bukan dipilih publik]," ujar Abi.

Ia menilai sosok yang baik jika tidak ditopang basis elektoral yang kuat, akan sia-sia.

Selain itu, kata Abi, Mahfud juga ditolak di kalangan NU karena tidak pernah menjadi pengurus NU sehingga kontribusinya di NU banyak dipertanyakan orang.

"Secara garis besar NU tidak mendukung dia. Jika dilihat dari aspek parpol, hampir tidak ada partai politik yang memiliki kedekatan emosional dengan Mahfud. Kalaupun PKB dahulu dia di sana, PKB sekarang Cak Imin menolak Mahfud dalam aspek politis," terangnya.

Abi memandang satu-satunya organisasi besar yang mungkin mendorong Mahfud hanyalah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Akan tetapi, kata dia, dalam KAHMI ada sejumlah tokoh besar lain, seperti Anies Baswedan, yang akan membuat dukungan terhadap Mahfud menjadi tidak solid.

"Secara garis besar, saya menilai Jokowi akan rugi jika mengambil Mahfud sebagai calon wakilnya. Hal itu dilatari analisis-analisis tersebut," beber Abi.

Sumber : Antara

Tag : cawapres, Pilpres 2019
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top