Penyelamatan 13 Anggota Tim Sepakbola Anak Thailand: Samarn Kunan Rela Kehilangan Nyawa

Demi memasok oksigen untuk anak-anak yang terjebak di dalam goa, Samarn Kunan mempertaruhkan risiko tertinggi yaitu kehilangan nyawanya sendiri. Ia kehilangan kesadaran dalam perjalanan untuk keluar dari gua yang banjir
Saeno | 11 Juli 2018 12:43 WIB
Pasukan kehormatan membawa foto Samarn Kunan, 38, mantan anggota pasukan elite navy SEAL Thailand yang tewas saat upaya penyelamatan 12 anak laki-laki dan pelatihnya yang terjebak di dalam gua yang terendam banjir di Provinsi Rayong, Thailand. - Reuters/Panumas Sanguanwong

Bisnis.com, CHIANGRAI, Thailand - Penyelamatan 13 anggota tim sepakbola anak Thailand yang terjebak banjir di dalam gua telah berjalan dengan sukses.

Keberhasilan penyelamatan anak-anak pecinta sepakbola terjebak di dalam gua yang terendam banjir harus dibayar dengan meninggalnya seorang mantan anggota angkatan laut Thailand.

Demi memasok oksigen untuk anak-anak yang terjebak di dalam goa, Samarn Kunan mempertaruhkan risiko tertinggi yaitu kehilangan nyawanya sendiri. Ia kehilangan kesadaran dalam perjalanan untuk keluar dari gua yang banjir

Samarn adalah mantan penyelam angkatan laut Thailand yang ikut ambil bagian dalam upaya menyelamatkan 12 anak laki-laki dan pelatih sepak bola berusia 25 tahun yang terperangkap di dalam gua terendam banjir di Thailand.

Tentara mengawasi lokasi setlah 12 anak dan pelatih sepakbola anak-anak itu berhasil diselamatkan pada 10 Juli 2018./Reuters-Soe Zeya 

Usai mengirimkan tanki udara, Saman Gunan yang bertubuh kecil itu kehilangan kesadaran dalam perjalanannya keluar dari kompleks gua Tham Luang.Pasokan udara harus dijaga kesinambungannya mengingat anak-anak itu telah terperangkap selama hampir dua minggu di sebuah ruangan di dalam gua.

Hujan yang datang tiba-tiba menjadi awal petaka, saat anak-anak itu terperangkap di dalam gua yang terendambanjir.

Kelompok anak-anak itu ditemukan oleh penyelamat Inggris setelah 10 hari berada di dalam gua. Mereka berada di tumpukan batu di sebuah ruangan kecil sekitar 4 km (2,5 mil) dari mulut gua.

Tim penyelam Thailand dan internasional memasok mereka dengan makanan, oksigen dan dukungan medis. Ruangan yang sempit membuat tingkat oksigen menurun drastis, menjadi hanya 15%, dari kondisi normal sebesar 21%.

Operasi penyelamatan yang melibatkan kalangan militer dan sipil pun berlomba melawan waktu, Anak-anak itu harus segera dievakuasi ke tempat yang aman. Hujan lebat diperkirakan akan datang hari Minggu, kalau itu terjadi berarti banjir akan semakin parah.

Para pejabat awalnya mempertimbangkan untuk meninggalkan anak-anak lelaki di ruangan itu untuk menunggu musim hujan. Risikonya, bisa saja mereka terperangkap di sana hingga empat bulan.

Namun komandan Angkatan Laut Thailand menyarankan jalan penyelamatan, pada Kamis. Para penyelam mungkin memiliki sedikit pilihan untuk mencoba melakukan penyelamatan darurat meski berisiko. Diketahui, di antara anak-anak lelaki yang berusia 11 sampai 16 tahun itu ada yang tidak dapat berenang.

"Pada awalnya, kami pikir anak-anak bisa tinggal untuk waktu yang lama ... tetapi sekarang semuanya telah berubah, kami memiliki waktu yang terbatas," kata Laksamana Muda Apakorn Yookongkaew.

 

Petugas penyelamatan melepas mesin setelah 12 anak dan pelatihnya berhasil diselamatkan dari Kompleks Gua Tham Luang, di sebelah utara provinsi Chiang Rai, Thailand, 10 Juli 2018./REUTERS-Soe Zeya Tun

Kematian di dalam gua

Samarn adalah penyelam yang sangat terlatih, dia tercatat pernah menjadi pasukan khusus Angkatan Laut Thailand. Namun, kondisi Kamis pekan lalu memang menyiratkan bahaya yang mengintai jika seseorang bergerak dari ruangan ke mulut gua. Hal itu juga sempat menimbulkan keraguan serius atas kemungkinan membawa anak-anak keluar dari gua dalam keadaan selamat melalui lorong-lorong sempit dan rendaman banjir.

Samarn pun menjalankan misi berbahaya itu. Ia mengirimkan oksigen ke dalam gua. Nahas, Samarn harus meregang nyawa setelah kehilangan kesadaran di salah satu jalan masuk, kata Passakorn Boonyaluck, wakil gubernur wilayah Chiang Rai, tempat gua itu berada.

"Tugasnya adalah mengirim oksigen. Dia tidak memiliki cukup oksigen dalam perjalanan kembali," kata Passakorn.

Mitra menyelam Samarn sempat mencoba untuk menyadarkan Saman namun tak membuahkan hasil.

Samarn, 38 tahun, telah meninggalkan angkatan laut. Namun, panggilan untuk memberikan pertolongan membuatnya membantu operasi penyelamatan.

Kematian Samarn menjadi penanda betapa 1.000 orang terlibat dalam operasi penyelamatan, termasuk penyelam angkatan laut, personel militer, dan relawan sipil, tak lagi mempersoalkan risiko yang akan dialami demi menyelamatkan anak-anak yang terjebak di dalam gua. Saman, tak pelak, jadi ikon pahlawan penyelamatan tersebut.

Sumber : bbc.com

Tag : thailand
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top