Bukan Aphelion, Ini Sebabnya Sebagian Daerah di Indonesia Terasa Lebih Dingin

Kondisi sejumlah daerah di Indonesia seperti Bandung dan Dieng terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan hingga membuat embun jadi es, telah dikaitkan dengan posisi Bumi yang sedang jauh dari matahari atau dikenal sebagai aphelion, namun, hal itu dibantah penggiat astronom.
JIBI | 07 Juli 2018 11:34 WIB
Planet Bumi - Youtube

Bisnis.com, BANDUNG - Kondisi sejumlah daerah di Indonesia seperti Bandung dan Dieng terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan hingga membuat embun jadi es, telah dikaitkan dengan posisi Bumi yang sedang jauh dari matahari atau dikenal sebagai aphelion, namun, hal itu dibantah penggiat astronom.

"Tidak ada hubungannya dengan aphelion, karena perubahan jarak matahari ke bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan Bumi," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Sabtu (7/7/2018).

Bantahan serupa juga disampaikan penggiat astronomi di Bandung, Avivah Yamani. Lulusan Astronomi ITB itu mengatakan, anggapan aphelion menyebabkan suhu bumi mendingin tidak benar, pun tidak ada hubungannya. Meskipun berada pada titik terjauh dari matahari, tidak berarti memberi pengaruh pada suhu di Bumi.

"Perubahan temperatur di bumi justru dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari," kata Avivah.

Setiap bulan Juli, Bumi berada pada posisi terjauh dari matahari sesuai bidang edarnya yang berbentuk elips. Posisi itu di dunia astronomi disebut sebagai aphelion. Isu yang berkembang sekarang, aphelion dipercaya sebagai penyebab suhu dingin 6 Juli 2018 hingga turun drastis di beberapa daerah di Indonesia.

Suhu udara, menurut Thomas Djamaluddin, dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari. Saat ini matahari berada di belahan utara, sehingga belahan selatan mengalami musim dingin. Tekanan udara di belahan selatan lebih tinggi daripada belahan utara.

Akibatnya. angin bertiup dari selatan ke utara. Angin ini pula yang mendorong awan menjauh ke utara sehingga di Indonesia mengalami musim kemarau. Di Indonesia pada musim kemarau saat ini angin bertiup dari arah Australia yang sedang musim dingin.

"Itu sebabnya masyarakat di Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin," katanya.

Musim Kemarau

Fenomena aphelion bersamaan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia. Tony Agus Wijaya, Kepala Stasiun Geofisika Bandung Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, menjelaskan penyebab perbedaan suhu siang dan malam di musim kemarau ini.

Menurutnya, cuaca yang umumnya cerah di siang hari membuat sinar matahari tidak terhalang awan untuk sampai ke permukaan bumi.

"T erasa siang hari lebih terik dan suhu terasa lebih panas," katanya.

Kemudian, saat malam hari, sebagian besar sinar matahari yang mengenai permukaan bumi terpantulkan kembali ke angkasa. Pemantulan itu langsung tanpa terhalang awan, karena langit cerah dan hanya sedikit awan.

"Sehingga saat dini hari terasa lebih dingin," ujar Tony.

Selain itu ada faktor lain. Tiap musim kemarau, angin dominan bertiup dari arah timur atau benua Australia. Angin itu membawa udara dingin.

"Saat ini musim kemarau 2018 umumnya normal, tetapi ke depan ada potensi gangguan cuaca jangka pendek yang menyebabkan hujan durasi singkat di musim kemarau," ujarnya.

Sumber : Tempo

Tag : bmkg, lapan
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top