Selain di Jawa, Daerah Mana Saja yang Merasakan Suhu Terendah?

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat, selain Bandung dan beberapa kota di Jawa, ada daerah lain yang suhunya menjadi lebih dingin pada musim kemarau kali ini.
JIBI | 07 Juli 2018 14:23 WIB
Warga melihat ke arah pedesaan yang tertutup kabut di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (7/7). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, suhu minimum di Kota Bandung mencapai 16,4 derajat celcius akibat adanya aliran massa dingin di sebelah selatan garis khatulistiwa. - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat, selain Bandung dan beberapa kota di Jawa, ada daerah lain yang suhunya menjadi lebih dingin pada musim kemarau kali ini. 

Kepala Stasiun Geofisika Bandung Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tony Agus Wijaya mengatakan, berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia pada 1-5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya berada di dataran tinggi atau kaki gunung.

Daerah terdingin itu antara lain Frans Sales Lega di Nusa Tenggara Timur (NTT), Wamena di Papua, dan Tretes di Pasuruan.

"Suhu terendah tercatat di Frans Sales Lega dengan nilai 12 derajat Celcius pada 4 Juli 2018," ujarnya seperti dilansir Tempo, Sabtu (7/7/2018).

Adapun untuk wilayah lain di Indonesia, selisih suhu terendah selama awal Juli 2018 terhadap suhu terendah rata-rata selama 30 hari terakhir disebut tidak begitu besar. Data itu menunjukkan fenomena aphelion memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia.

"Masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap informasi yang menyatakan bakal terjadi penurunan suhu ekstrem di Indonesia," lanjut Tony.

Sebelumnya, beredar kabar di masyarakat bahwa suhu udara di Indonesia akan turun drastis akibat fenomena aphelion atau bumi sedang berada di posisi terjauh dari matahari. Fenomena astronomis itu terjadi setahun sekali sekitar Juli.

Pada waktu yang sama, wilayah Indonesia tengah berada di musim kemarau. Kondisi ini, terangnya, menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Faktanya, penurunan suhu belakangan ini lebih disebabkan kandungan uap di atmosfer yang sedikit dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT. Kondisi itu terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir.

Berdasarkan teori fisika, jelas Tony, uap air dan air merupakan zat yang efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tertahan atau tersimpan di atmosfer.

Energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu di lapisan atmosfer dekat permukaan bumi juga kurang signifikan.

"Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," tambahnya.

Selain itu, pada Juli wilayah Australia tengah berada pada musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia cenderung dingin, kering, dan memiliki tekanan yang relatif tinggi.

Tekanan udara tersebut menjadi penyebab pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia. Dampaknya, terjadi penurunan suhu udara yang semakin besar pada malam hari di Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Sumber : Tempo

Tag : bmkg
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top