Siapa John Dijkstra dan Peran Gerakan Pancasila?

Semangat Pancasila yang belakangan ini ramai didengungkan oleh pemerintah Indonesia, ternyata meninggalkan jejak khusus di Kota Lama, Semarang dalam sosok rohaniwan bernama John Dijkstra.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 23 Juni 2018 21:54 WIB
Library Caf John Dijkstra - TripAdvisor

Bisnis.com, SEMARANG – Semangat Pancasila yang belakangan ini ramai didengungkan oleh pemerintah Indonesia, ternyata meninggalkan jejak khusus di Kota Lama, Semarang dalam sosok rohaniwan bernama John Dijkstra.

Rahmawan, salah satu pengelola Library Café John Dijkstra mengatakan tempat ini awalnya adalah kantor dari Johanes Baptista Dijkstra, SJ alias John Dijkstra adalah seorang Romo Katolik dari Ordo Jesuit, yang memiliki fokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya petani dan nelayan. Menurut Rahmawan, yang akrab disapa Wawan, pada 1950 John Dijkstra memfungsikan kantor yang berlokasi di Jalan Srigunting Nomor 10, Kota Lama, Semarang, sebagai Rumah Pancasila.

:Di sinilah lahir IPP, yaitu Ikatan Petani Pancasila. Kemudian pada tahun 1960-an pernah dituduh sebagai organisasi yang berafiliasi pada politik terlarang masa itu,” ujar Wawan kepada Bisnis, Sabtu (23/6/2018).

Foto:Jesuit Conference of Asia Pacific

Dia mengungkapkan, Romo Belanda yang lahir pada 26 Oktober 1911 ini menumbuhkan Yayasan Usaha Pendamping Buruh dan Tani. Yayasan ini pada 1996 akhirnya berubah lagi menjadi sebuah lembaga bernama LPUBTN yakni Lembaga Pendamping Usaha Buruh, Tani, dan Nilayam. Ada pun aktivitas lembaga ini masih dalam hal sosial dan ekonomi masyarakat.

“Untuk kegaiatan LUPBTN ini memang luar biasa sekali, untuk pendampingan masyarakat,” terang Wawan.

Dia menambahkan, Library Café John Dijkstra ini memiliki tiga lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai ruang aktivitas bagi LPUBTN, kemudian lantai dua sebagai ruang komunitas untuk John Dijkstra Institute.

Menurut Wawan, dari ruangan ini diharapkan sebagai arena aktualisasi diri orang muda dan komunitas di Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya.

“Dari situ diharapkan dari kegiatan yang sering sharing dan diskusi, saling bertemu, bersilahturahmi, bisa muncul semangat motivasi dari kawan-kawan muda mengenai dunia kerelawanan. Sehingga selalu muncul semangat muda baru untuk perubahan di tengah masyarakat,” tegas Wawan.

Sementara itu lantai 3 difungsikan sebagai hostel sederhana dengan biaya Rp30 ribu per malam. Hostel ini menjadi tempat persinggahan bagi para komunitas di Semarang ataupun di luar Semarang, dan traveler low budget di Semarang.

MISI BIDANG SOSIAL EKONOMI

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Bisnis, Dijkstra adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Dia telah dididik dan disekolahkan di Belanda oleh orangtuanya untuk menjadi administrator pabrik gula tebu di Jawa. Ketika lulus MULO, Dijkstra melanjutkan ke sekolah teknik mesin untuk mendukung karir lanjutan sebagai teknisi pabrik gula yakni MTS.

Selama sekolah, Dijkstra aktif dalam Organisasi Siswa Katolik. Hal ini dikarenakan, Dijkstra muda lebih tertarik dengan sepak bola dan klub sekolah ketimbang belajar teknik. Usai lulus MTS, Dijkstra justru belajar bahasa Latin dan Yunani, bukan berangkat ke Jawa. Dia juga mengambil sekolah Gymnatium untuk belajar budaya dan sejarah. Menurut Dijkstra, sekolah budaya ini bisa menjadi penawar racun atas pendidikan teknik yang tidak diminatinya.

Pada 1933, lulus dari Gymnatium, Dijkstra masuk Ordo Yesuit. Setahun menjalani masa novisiat, Dijkstra berangkat ke Jawa dengan status frater atau calon pastor bersama Petrus Willekens, SJ, calon uskup Batavia. Sesampainya di Jawa, Dijkstra ditempatkan di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah selama dua tahun. Dia masuk novisiat lagi untuk memperdalam bahasa dan budaya Melayu serta Jawa.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, Dijkstra sedang belajar Teologi selama setengah tahun di Yogyakarta sebelum diinternir di Muntilan bersama Frans Seda. Sebagai seorang interniran Jepang, semangat belajar Dijkstra dan para frater lain masih tetap menyala untuk belajar dan berkarya meski dalam penjara.

Pada 1945, ketika Jepang menyerah atas Sekutu, Mgr. Soegijapranata, pemimpin umat Katolik pribumi pertama melihat frater-frater kurus akibat menjadi internir diminta untuk kembali ke Yogyakarta. Pada 1946, saat revolusi fisik berkecamuk di Indonesia, Dijkstra kembali ke Belanda. Selama dua tahun dia melanjutkan belajar teologi di Maastricht sampai dengan 1947, Dijkstra ditahbiskan menjadi Pastor Jesuit.

Tanggal 4 September 1949, Pater Dijkstra kembali ke Indonesia yang sudah merdeka. Dia mendapat kertas kecil dari Pater Gaspar de Quay, yang mengatakan; “Kamu mulai saja dengan karya sosial ekonomi di antara rakyat. Saya tahu kamu senang demikian.”

Pater Dijkstra kesulitan memahami tugas dari Pater Quay untuk memadukan visi, semangat, dan iman Yesuit ke dalam karya sosial ekonomi demi kepentingan masyarakat di Indonesia. Hingga pada 1955, setelah diangkat jadi Sekretaris Panitia Sosial Waligereja Indonesia, Pater Dijkstra mulai mengerti apa yang harus dilakukan untuk karya sosial ekonomi.

DIJKSTRA DAN PANCASILA

Pater Dijkstra mulai bekerjasama dengan sejumlah orang muda seperti Sayoga Soemaorawiro, Gito Martojo, dan Bambang Ismawan untuk memulai gerakan sosial ekonomi untuk rakyat. Pada 1952, Pater Dijkstra dipindahkan ke Semarang menjadi Pastor Kepala di Paroki Gedangan. Kota Lama, sekaligus menjadi Sekretaris Uskup Semarang, Mgr. Soegijapranata SJ. Pada 1954 di Semarang diselenggarakan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI). Ada pun keputusan kongres ini adalah perlunya membentuk suatu gerakan sosial ekonomi yang bersifat umum, tidak berafiliasi dengan Partai Katolik, dan merupakan perwujudan iman dan kepedulian terhadap kaum miskin.

Sesuai keputusan KUKSI, Dijkstra membidani Gerakan Pancasila yang tidak berafiliasi dengan Partai Katolik dan bersifat umum. Gerakan ini menjadi cikal bakal Ikatan Buruh Pancasila, Ikatan Petani Pancasila, dan Ikatan Para Medis Pancasila. Nama Pancasila digunakan untuk menegaskan gerakan ini bersifat umum tanpa ikatan suku, ras, dan agama tertentu.

Sayangnya kedekatan Dijkstra dan Soegijapranata sempat membuat dia diserang golongan non Katolik dan kalangan Katolik sendiri bahwa Gerakan Pancasila hanyalah kamuflase kegiatan misionaris. Dengan tegas Dijkstra menentangnya. Pada sisi lain, khusus umat Katolik, Dijkstra membentuk Aksi Puasa Pembangunan (APP). Ada pun APP dilakukan setiap masa Pra-Paskah dan dana yang terkumpul digunakan membantu kegiatan ‘wong cilik’.

Sebagai informasi, Gerakan Pancasila, pada masa itu memang paling banyak mendapatkan tantangan dari pihak lain yakni Partai Komunis Indonesia atau PKI. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 72/1964 yang mengharuskan kegiatan suatu organisasi massa mencakup sampai ke seluruh propinsi di Indonesia.

Keppres ini merupakan upaya PKI yang waktu itu pengaruhnya sangat besar, agar organisasi yang tidak sealiran dengannya bubar. Kondisi ini membuat Gerakan Pancasila berusaha agar kegiatannya mencakup sampai ke 26 Propinsi di Indonesia, sehingga tak ada alasan untuk membubarkan gerakan ini. Gerakan Pancasila pun akhirnya melebur ke dalam organisasi, sesuai ketentuan pemerintah. Ikatan Buruh Pancasila masuk ke FBSI (sekarang SPSI). Ikatan Petani ke HKTI, dan Ikatan Nelayan ke HNSI.

Selama hampir 20 tahun mulai 1952-1971 Dijkstra tinggal di Semarang, menjadi motivator atau inspirator dari gerakan swadaya masyarakat di bidang sosial ekonomi.Pada usia 79 tahun Dijkstra hendak dimasukkan ke rumah jompo Jesuit di Girisonta. Namun karena terus menolak, dia akhirnya ‘dibuang’ ke Seminari Tinggi Santo Petrus, Pematang Siantar, Sumatra Utara, untuk mendampingi para calon Imam Projo. Dijkstra pun tutup usia pada 20 Mei 2003 di Semarang, Jawa Tengah.

Tag : pancasila
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top