Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Dunia Ingatkan Adanya Potensi Pelemahan Ekonomi Global Gradual

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih tetap kuat di level 3,1% pada 2018 meskipun ada potensi melemah secara bertahap dalam dua tahun ke depan.
./.Bloomberg
./.Bloomberg

Kabar24.com, JAKARTA- Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih tetap kuat di level 3,1% pada 2018 meskipun ada potensi melemah secara bertahap dalam dua tahun ke depan.

Pelemahan itu disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi negara maju yang melambat dan pemulihan di negara berkembang yang mayoritas negaranya mengekspor komoditas menjadi lesu.

Bank Dunia memperkirakan aktivitas ekonomi di negara ekonomi maju bakal tumbuh 2,2% pada 2018, sebelum melambat ke 2% pada tahun depan seiring bank sentral di negara maju mulai menghapuskan stimulus moneternya secara gradual.

Lebih lanjut Bank Dunia memproyeksikan laju pertumbuhan di negara ekonomi maju juga berpotensi melemah disebabkan oleh stimulus fiskal Amerika Serikat yang mulai menyusut.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara berkembang secara keseluruhan diperkirakan menguat menjadi 4,5% pada 2018 sebelum sedikit melambat ke level 4,7% pada tahun depan.

Hal itu ditopang pemulihan ekspor komoditas yang telah mencapai puncaknya dan kenaikan harga komoditas akan terhenti.

Untuk jangka menengah, prospek pertumbuhan ekonomi dunia juga masih dibayangi sejumlah risiko. Tekanan pasar keuangan, proteksionisme dagang, dan tensi geopolitik akan menjadi ‘awan hitam’ dalam outlook ekonomi global.

Bank Dunia pun menekankan ancaman proteksionisme perdagangan dapat menggiring ke medan perang dagang yang pada akhirnya dapat merusak segalanya. Kendatipun perang dagang tidak terjadi, Devarajan menilai, ketidakpastian yang ditimbulkan dapat merusak sentimen bagi investor.

Belum lagi masalah kredit di negara berkembang maupun pengetatan kebijakan moneter yang tiba-tiba dari AS dapat mengguncang pasar keuangan dan menyebabkan perlambatan khususnya di negara-negara yang memiliki tingkat utang tinggi.

“Dari krisis minyak pada 1975, krisis utang Amerika Latin pada 1980-an, krisis keuangan Asia pada 1990-an, hingga krisis keuangan global pada 2007-2009,” ungkap Devarajan memperingatkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper