Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Iran Tolak Negosiasi Ulang Kesepakatan Nuklir

Menteri luar negeri Iran mengatakan pada Kamis bahwa tuntutan Amerika Serikat untuk mengubah perjanjian nuklir 2015 tidak dapat diterima, menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump untuk Eropa untuk "memperbaiki" kesepakatan tersebut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Mei 2018  |  07:37 WIB
Bendera Iran - Reuters
Bendera Iran - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri luar negeri Iran mengatakan pada Kamis (3/5/2018) bahwa tuntutan Amerika (AS) Serikat untuk mengubah perjanjian nuklir 2015 tidak dapat diterima, menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump untuk Eropa untuk "memperbaiki" kesepakatan tersebut.

Trump telah memperingatkan bahwa jika Eropa tidak memperbaiki ‘kecacatan’ dalam perjanjian internasional tersebut pada 12 Mei mendatang, dia akan menolak untuk memperpanjang pelonggaran sanksi AS bagi negara produsen minyak tersebut.

"Iran tidak akan menegosiasikan kembali apa yang telah disepakati bertahun-tahun lalu dan telah dilaksanakan," kata Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif dalam pesan video yang diposting di YouTube, seperti dikutip Reuters.

Inggris, Prancis, dan Jerman tetap berkomitmen dengan kesepakatan awal. Namun, dalam upaya untuk menjaga AS tetap pada kesepakatan, ketiga negara akan membuka pembicaraan mengenai program rudal balistik Iran, kegiatan nuklirnya setelah 2025 ketika ketentuan utama kesepakatan berakhir, dan peran dalam krisis Timur Tengah seperti Suriah dan Yaman.

Penasihat senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Akbar Velayati, juga memperingatkan Eropa pada hari Kamis mengenai "revisi" kesepakatan nuklir tersebut.

"Bahkan jika sekutu AS, terutama Eropa, mencoba untuk merevisi kesepakatan ..., salah satu pilihan kami akan menarik diri dari itu," ungkap televisi pemerintah mengutip Ali Akbar Velayati.

Penandatangan Eropa untuk kesepakatan tersebut telah berusaha membujuk Trump untuk menyelamatkan perjanjian yang dicapai di bawah pemerintahan Barack Obama tersebut. Mereka berpendapat bahwa sangat penting untuk mencegah perlombaan senjata Timur Tengah yang tidak stabil dan bahwa Iran telah mematuhi ketentuan-ketentuannya.

Zarif menegaskan bahwa Iran tidak akan mengalihdayakan keamanan sdan juga tidak akan melakukan renegosiasi atau mengubah kesepakatan yang telah terapkan dan dijalankan dengan itikad baik.

Mengacu pada masa lalu Trump sebagai raja properti, Zarif menambahkan, "Untuk memasukkannya ke dalam istilah real estat, ketika Anda membeli rumah dan memindahkan keluarga Anda, atau menghancurkannya untuk membangun gedung pencakar langit, Anda tidak dapat kembali dua tahun kemudian dan menegosiasikan harga kembali."

Menentang tuntutan Barat, Iran telah berulang kali mengatakan tidak memiliki niat untuk mengurangi jejaknya dalam urusan Timur Tengah dan kemampuan rudalnya, yang bersifat defensif dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan nuklir yang tercakup dalam kesepakatan tersebut.

Zarif yang berbicara dalam bahasa Inggris di video YouTube, mengatakan AS telah secara konsisten melanggar kesepakatan nuklir, terutama dengan mengintimidasi orang lain untuk mencegah investasi kembali ke Iran.

Bank-bank dan bisnis besar Eropa terus menghindari Iran karena takut jatuh akibat sanksi AS yang tersisa, seihngga menghambat upaya Iran untuk membangun kembali perdagangan luar negeri dan memikat investasi asing yang sangat dibutuhkan untuk ekonominya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top