KI HADJAR DEWANTARA: Andai Aku Seorang Belanda

Tepat pada hari ini, 26 April, sejak 59 tahun silam Indonesia kehilangan satu tokoh besar. Dia adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.
Asteria Desi Kartika Sari | 26 April 2018 10:31 WIB
tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara

Bisnis.com,  JAKARTA — Tepat pada hari ini, 26 April, sejak 59 tahun silam Indonesia kehilangan satu tokoh besar. Dia adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Dia meninggal dunia di Yogyakarta pada usia 69 tahun. Selain sebagai Menteri Pendidikan pertama di Indonesia, dia  juga disebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia karena jasa-jasanya banyak terukir untuk bidang pendidikan.

"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa,  Tut Wuri Handayani"

Artinya "Di depan memberi contoh, Di tengah memberi semangat, Di belakang memberi dorongan"

Tentu semboyan tersebut tidak asing terdengar di telinga kita.  Bait kalimat yang menjadi semboyan Taman Siswa  dari Ki Hajar Dewantara tak lekang oleh waktu menjadi penyemangat.  Buktinya semboyan tersebut masih dipakai di dunia pendidikan Indonesia hingga sekarang.

Ki Hadjar Dewantara adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Dia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, tempat di mana orang pribumi bisa menempuh pendidikan pada saat itu.

Ki Hadjar Dewantara cenderung lebih tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis-menulis, hal ini dibuktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.

Salah satu tulisannya yang tajam di surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker adalah  berjudul "Andai Aku Seorang Belanda".

" ..Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya."

Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti kolonial,  hingga akhirnya berujung pada pengasingannya lantaran dinilai mengkritik pemerintah Belanda.

Setelah kembali ke Indonesia,  pada 1919, Ki Hajar Dewantara dipercaya sebagai Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan pada masa kabinet Pertama di Indonesia. Ki Hajar kemudian meninggal di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata Yogyakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pendidikan

Editor : Gajah Kusumo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top