Rusia Kembali Balas Pengusiran Diplomatnya oleh Inggris

Aksi balas membalas antara negara-negara Eropa dan AS dengan Rusia terkait peracunan terhadap Sergei Skripal dan putrinya masih berlanjut.
Annisa Margrit | 31 Maret 2018 10:25 WIB
Bendera Rusia berkibar di puncak gedung Konsulat Jenderal Rusia di Seattle, Washington Amerika Serikat, 26 Maret 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Aksi balas membalas antara negara-negara Eropa dan AS dengan Rusia terkait peracunan terhadap Sergei Skripal dan putrinya masih berlanjut.

Dilansir dari BBC, Sabtu (31/3/2018), Rusia meminta Inggris untuk memangkas jumlah stafnya di Negeri Beruang Merah agar sama dengan jumlah perwakilan Rusia di Inggris.

Sebelumnya, Inggris telah mengusir 23 diplomat Rusia. Sejumlah negara Eropa dan AS pun telah ikut serta mengusir para diplomat Rusia dari negara masing-masing.

Secara keseluruhan, tercatat 130 diplomat Rusia diusir dari negara-negara tersebut.

Hal ini ditindaklanjuti oleh Rusia dengan mengusir 60 diplomat AS serta menutup konsulat AS di St. Petersburg, kota kedua terbesar di negara itu. Pemerintahan Vladimir Putin pun kemudian mengusir 59 diplomat dari 23 negara lainnya dan tengah mempertimbangkan untuk mengambil tindakan terhadap empat negara lainnya.

Pada Kamis (29/3), Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres menyampaikan peringatan bahwa kondisi ini mirip dengan situasi yang terjadi pada Perang Dingin.

Seperti diketahui, Sergei Skripal adalah mantan agen rahasia Rusia yang diincar Moskow karena dinilai berkhianat ke Inggris.

Dia dan putrinya masih dalam kondisi kritis sejak ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury, Inggris pada Minggu (4/3). Ayah dan anak itu diketahui terpapar Novichok, racun saraf yang sangat kuat.

Pemerintah Inggris meyakini Rusia berada di balik peristiwa itu. Adapun Pemerintah Rusia membantah terlibat dalam penyerangan tersebut dan balik menuding London sebagai dalang untuk menciptakan sentimen anti Rusia.

Pada 2004, Skripal ditahan badan intelijen Rusia karena dituding mengkhianati rekan-rekannya sesama agen Rusia ke badan intelijen Inggris. Namun, pada 2010 dia mendapat pengampunan dari Presiden Dmitry Medvedev sebagai bagian dari sebuah program pertukaran mata-mata.

Pertukaran mata-mata itu mencakup 10 agen Negeri Beruang Merah yang ditahan di AS. Pertukaran yang dilakukan di bandara di Wina, Austria itu merupakan yang terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin pada 1991.

Sejak tinggal di Inggris, Skripal tidak lagi menjadi sorotan hingga akhirnya ditemukan tak sadar di Salisbury.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, inggris

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top