Agenda Bank Sentral dan Tarif Impor AS Jadi Sorotan Pasar Global Pekan Depan

Pekan depan akan menjadi yang tersibuk bagi para pembuat kebijakan dan investor global dalam mengambil keputusan.
Dwi Nicken Tari | 18 Maret 2018 19:07 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Kabar24.com, JAKARTA — Pekan depan akan menjadi yang tersibuk bagi para pembuat kebijakan dan investor global dalam mengambil keputusan.

Dimulai dari pemilihan gubernur baru untuk bank sentral China (PBOC) hingga pertemuan Federal Reverse yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga pertamanya tahun ini. Berikut sejumlah agenda global untuk pekan depan yang dikutip dari Bloomberg, Minggu (18/3/2018).

-          Gubernur PBOC Baru

Kongres Rakyat China (NPC) akan mengumumkan nama yang akan menjadi penerus Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan pada Senin (19/3). Seperti diketahui, Xiaochuan telah menyatkan bahwa dia akan pensiun setelah mengabdi selama 15 tahun.

Gubernur PBOC yang baru nantinya akan memimpin bank sentral negara ekonomi terbesar kedua itu dengan kekuatan dan kekuasaan yang lebih hebat, di domestik maupun global. Pekan lalu, pemerintah Negeri Panda telah memberikan kekuasaan kepada PBOC untuk dapat membuat kebijakan sektor keuangan.

Chi Lo, Senior Ekonom China BNP Paribas Asset Management di Hong Kong, menyatakan bahwa arah kebijakan Beijing sangat jelas dengan melakukan sentralisasi semua departemen, kementerian, pejabat, dan gubernur.

“Tidak masalah apakah seseorang [yang akan menjabat gubernur PBOC] itu sangat liberal atau tidak, dia tetap tidak akan bisa keluar dari bingkai yang telah ditetapkan Beijing,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Minggu (18/3).

Adapun, Beberapa nama yang akan digadang-gadang menjadi penerus Xiaochuan adalah Guo Shuqing, Jiang Chaoliang, Liu He, Xie Fuzhan, dan Yi Gan.

 

-          Pertemuan G20

Pada Selasa (20/3), para bankir bank sentral dan menteri keuangan dari kelompok 20 (G20) akan memberikan simpulan dari pertemuan selama dua hari di Buenos Aires tersebut. Pertemuan ini merupakan yang pertama dalam tahun ini. Rapat kali ini diadakan di tengah-tengah perekonomian global dalam kesehatan yang memburuk. Pasalnya, meskipun beberapa pejabat tellah menyatakan mereka akan berdiskusi mengenai mata uang virtual (cryptocurrency), tetapi topik kali ini akan lebih membicarakan tentang penerapan tarif impor baja dan aluminium yang baru ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump.

Banyak negara-negara yang telah melakukan lobi agar dikecualikan dari tarif tersebut, sementara negara-negara yang lain mengancam dengan potensi perang dagang. Hal tersebut akan membuat Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin sedikit kewalahan karena dia juga tengah berjuang untuk mengurangi “gesekan perdagangan” antarnegara.

Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Taro Aso telah mengonfirmasi tidak hadir di dalam pertemuan ini karena adanya skandal di dalam negeri yang menyeret namanya dan Perdana Menteri Shinzo Abe.

 

-          FOMC perdana Powell sebagai Gubernur The Fed

Rabu (21/3) merupakan hari pertama bagi Gubernur The Fed Jerome Powell untuk duduk di “kursi panas” memimpin Federal Open Market Committee (FOMC) perdananya. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi AS yang meningkat dan pasar pekerja yang membaik telah menumbuhkan perkiraan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya di kisaran 1,5%-1,75%. Akan tetapi, pertanyaan besarnya kini adalah apakah The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali atau tiga kali dalam tahun ini.

Di dalam testimoninya pada jajak pendapat pertamanya di depan Komite Jasa Keuangan DPR Amerika Serikat pada Selasa (27/2), Powell  telah menjelaskan bahwa ada empat peristiwa besar yang menyebabkan dia akan merevisi perkiraannya. “Kita telah melihat lajunya pertumbuhan di pasar pekerja, lalu terdapat data-data yang bisa memberikan kepercayaan diri bahwa inflasi akan tumbuh sesuai target, kemudian kita telah melihat kekuatan pertumbuhan [ekonomi] di seluruh dunia, dan kita juga mengetahui bahwa kebijakan fiskal telah lebih stimulatif,” jelasnya kala itu.

 

-          Rapat Kebijakan BoE

Pada Kamis (22/3), giliran Bank Sentral Inggris (BoE) yang akan memulai pekerjaan untuk rencana kenaikan suku bunganya pada Mei 2018.

Inflasi di Britania Raya masih di level 1%, di atas target BoE dan para pembuat kebijakan khawatir karena kecepatan pertumbuhan ekonomi mereka telah turun sejak voting Brexit sehingga membuat ekonomi memanas.

“Di luar dari konsekuensi Brexit, risiko domestik masih normal dan ancaman utama untuk Inggris masih datang dari faktor eksternal,” ungkap BoE dalam pernyataan pekan lalu.

Untuk saat ini, para investor telah memperkirakan kemungkinan 80% BoE akan mengambil langkah pada Mei nanti.

Sementara di negara-negara lain, beberapa bank sentral yang akan menetapkan suku bunganya pada hari ini termasuk New Zealand, Filipina, dan Indonesia.

 

-          Pemberlakuan tarif impor baja dan alumunium AS

Akhir pekan ini, Jumat (23/3), tarif impor baja sebesar 25% dan aluminium sebesar 10% yang telah ditandatangani Presiden Trump mulai berlaku hari ini. Kanada dan Meksiko telah diberi pengecualian sementara dari penerapan tarif ini dan Australia juga telah mendapatkan kesepakatan untuk diberi pengecualian.

Diperkirakan, beberapa negara masih melobi AS untuk mendapatkan pengecualian juga jika mereka dapat membuktikan adanya perdagangan yang adil dan menjadi mitra keamanan nasional Paman Sam.

Kementerian Perdagangan AS masih membuka pintu hingga Jumat ini bagi siapa saja, baik perusahaan maupun perorangan yang memasok baja untuk entital AS yang menggunakan logam dalam konstruksi, maunfaktur, dan aktivitas bisnis domestik lainnya. 

Tag : sentimen pasar, ekonomi global
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top