OTT Tangerang : KPK Temukan Uang Suap Termin Pertama

Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil menemukan uang suap terhadap Hakim dan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Tangerang.
MG Noviarizal Fernandez | 15 Maret 2018 00:53 WIB
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - Antara

Kabar24.com, JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil menemukan uang suap terhadap Hakim dan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Tangerang.

 

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan bahwa pada Selasa (13/3/3018) malam hingga Rabu (14/3/2018) malam, penyidik melakukan penggeledahan di tiga lokasi yakni di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang khususnya di ruang kerja hakim Wahyu Widya Nurfitri dan panitera pengganti Tuti Amalia.

 

“Selain itu, penggeledahan yang dilakukan secara pararel ini juga dilakukan di rumah dinas tersangka hakim di Kompleks Kehakiman Tangerang serta di kantor para pengacara yang telah ditetapkan sebagai tersangka,” katanya Rabu malam.

 

Dia melanjutkan, di pengadilan dan kantor pengacara, penyidik menemukan sejumlah dokumen yang diduga berkaitan dengan perkara perdata yang ditangani oleh tersangka hakim. Sementara di rumah dinas hakim, KPK menemukan uang sebesar Rp7,5 juta yang diduga merupakan uang suap termin pertama.

 

“Uang itu dimasukkan ke dalam amplop yang bertuliskan nama kantor pengacara tempat dua tersangka advokat bernaung,” lanjutnya.

 

Uang suap tersebut diduga bersumber dari dua advokat yang ditetapkan sebagai tersangka. Menurut KPK, sebelum mendaftarkan gugatan perdata wanprestasi dengan obyek sengketa sebidang tanah, dua advokat yakni Sapuddin dan Agus Wiratno telah bersepakat bahwa pembayaran jasa dilakukan menggunakan sistem succes fee.

 

Setelah melakukan OTT, terungkap informasi bahwa pada awal Maret 2018, advokat Agus Wiranto bersua dengna panitera pengganggi Tuti Amalia yang mengatakan bahwa putusan perkara perdata wanprestasi yang didaftarkan oleh Agus Wiratno akan dibacakan pada 8 Maret 2018. Informasinya, kubu Agus akan dikalahkan oleh hakim sehingga terjadi permintaan agar dimenangkan dalam kasus ini.

 

Pada 7 Maret 2018, Agus Saepudin atas persetujuan atasannya Saepuddin, menyerahkan uang Rp7 juta kepada Tuti Amalia yang kemudian diteruskan ke hakim Wahyu Widya Nurfitri. Akan tetapi, sang hakim mengatakan bahwa uang tersebut kurang sehingga akhirnya terjadi kesepakatan total jumlah yang diserahkan sebesar Rp30 juta.

 

Namun, sampai 8 Maret 2018, sisa uang sebesar Rp22,5 juta belum diserahkan, Wahyu sebagai ketua majelis hakim menunda sidang hingga 13 Maret 2018. Sehari sebelum pembacaan putusan, Agus Wiratno membawa uang Rp22,5 juta tersebut dan menyerahkan langsung kepada Tuti Amalia.

 

Begitu tiba di parkiran pengadilan pada Senin siang, petugas KPK langsung mengamankan Agus, disusul dengan mengamankan Tuti dan tiga petugas pengadilan lainnya. Pada malam hari, petugas mengamankan Wahyu Widya Nurfitri di Bandara Soekarno-Hatta setelah tiba dari Semarang.

 

KPK telah menetapkan Agus Wiratno dan Saepuddin selaku pemberi suap sebagai tersangka. Mereka diduga melanggar Pasal 6 ayat 1 a atau Pasal 13 Undang-undang (UU) No.31/1999 yang diberbaharui dalam UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Sementara itu Wahyu Widya Nurfitri dan Tuti Amalia juga telah ditetapkan sebagai tersangka karena berperan sebagai penerima suap. Mereka dijerat dengan Pasal 12 c atau Pasal 11 UU No.31/1999 yang diberbaharui dalam UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Tag : suap hakim, operasi tangkap tangan
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top