Toys "R" Us Dijadwalkan Rapat Dengar Pendapat di Pengadilan Kepailitan AS Besok

Setelah mencoba segala upaya untuk bertahan dari keterpurukannya, Toys "R" Us Inc diikabarkan bersiap melakukan likuidasi atau menutup seluruh gerainya di Amerika Serikat pada pekan ini, yang memang sedang mengalami kebangkrutan
Dwi Nicken Tari | 14 Maret 2018 22:19 WIB
Pejalan kaki melintas di depan gerai Toys R Us, di Times Square, New York, Amerika Serikat. - Reuters/Carlo Allegri
Kabar24.com, JAKARTA - Setelah mencoba segala upaya untuk bertahan dari keterpurukannya, Toys "R" Us Inc diikabarkan bersiap melakukan likuidasi atau menutup seluruh gerainya di Amerika Serikat pada pekan ini, yang memang sedang mengalami kebangkrutan.
 
Menurut sumber yang enggan di­se­but­kan identitasnya, Toys “R” Us te­lah melewatkan pembayaran kepada se­jumlah pemasoknya dalam beberapa ha­ri ini seiring adanya potensi likuidasi­ usahanya. 
 
“Belum ada penjelasan mengenai penghentian pembayaran itu. Perusahaan juga diketahui menghentikan negosiasi dengan sejumlah vendor,” ungkap sumber Bloomberg seperti dikutip, Rabu (14/3).
 
Pihak Toys “R” Us juga belum ada yang memberi komentar terkait masalah tersebut. Adapun pada hari ini, Kamis 15 Maret 2018, peritel asal AS itu dijadwalkan melakukan rapat dengar pendapat (hearing) di pengadilan kepailitan waktu setempat.
 
Harapan kebangkitan bisnis salah satu peritel mainan terbesar di dunia tersebut kandas setelah gagalnya perusahaan untuk menemukan pembeli atau mencapai kesepakatan restrukturisasi utang dengan para debiturnya.
 
Sebenarnya,  Toys “R” Us telah mengumumkan kepailitan perusahaannya pada September lalu dengan mengajukan dokumen kepailitan Chapter 11 ke Pengadilan Kepailitan AS di Richmond, Virginia. kala itu mereka berencana akan lebih tampil dengan model bisnis yang lebih ramping dan utang yang terkendali.
 
Pengajuan pailit tersebut dilakukan setelah utang perusahaan menggunung lebih dari US$5 miliar dan tagihan US$400 juta per tahun. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Toys “R” Us telah mendapatkan pinjaman baru senilai US$3,1 miliar untuk mempertahankan operasionalnya. Sayangnya, hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Tag : industri mainan
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top