BBKSDA Riau Mau Pakai Senapan Bius untuk Tangkap Harimau Pemangsa Manusia

Setelah berbagai cara yang dilakukan tidak berhasil, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mempertimbangkan untuk menggunakan senapan bius guna menyelamatkan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjebak dan berkeliaran di perkebunan sawit Kabupaten Indragiri Hilir.
Newswire | 22 Februari 2018 15:26 WIB
Ilustrasi-Harimau - www.hdimagewallpaper.com

Kabar24.com, JAKARTA - Setelah berbagai cara yang dilakukan tidak berhasil, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mempertimbangkan untuk menggunakan senapan bius guna menyelamatkan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjebak dan berkeliaran di perkebunan sawit Kabupaten Indragiri Hilir.

"Opsi penggunaan senjata bius dilakukan setelah kita yakin. Artinya data lapangan, posisi harimau, bergerak ke mana, sudah kita ketahui," kata Kepala Seksi Wilayah II BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo, di Pekanbaru, Kamis, 22 februari 2018.

Mulyo, yang juga menjabat sebagai ketua tim penyelamat harimau itu, mengatakan hingga kini tim yang telah lebih dari satu bulan di lapangan dinilai telah mempelajari pola pergerakan harimau betina remaja itu.

Penggunaan senjata bius, menurut dia, merupakan pilihan terberat dan rencana terakhir itu dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Sebelum menjatuhkan penggunaan bius, BBKSDA Riau bersama polisi yang tergabung dalam tim penyelamat harimau telah berupaya memasang perangkap-perangkap berbentuk kotak besi.

Setidaknya terdapat enam perangkap yang dipasang dengan masing-masing di antaranya berisi kambing jantan serta babi hutan. Namun, upaya-upaya itu gagal.

Dua ekor harimau betina dewasa masing-masing bernama Boni dan Bonita, masih berkeliaran di perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP). Di lokasi itu, seorang karyawan bernama Jumiati meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan awal Januari 2018.

Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir.

"Bius itu letaknya ketika semua sudah dilakukan," ujar Mulyo. Dia menuturkan nantinya penggunaan senjata bius akan dilakukan oleh tim khusus, yang berbeda dengan tim yang telah berada di lapangan selama hampir dua bulan tersebut.

"Penggunaan senjata bius nantinya akan dilakukan oleh tim khusus, terdiri dari penembak, tim medis, observasi. Mereka sudah siap untuk digerakkan," ujarnya.

Mulyo menjelaskan upaya tim yang melakukan pencarian bukannya tidak membuahkan hasil. Dalam beberapa kesempatan, tim bahkan melihat langsung salah satu dari dua harimau itu berkeliaran di jalanan koridor perkebunan sawit.

Yang terakhir, perjumpaan tim terjadi pada Selasa, 20 Februari lalu. Tim BBKSDA dan polisi yang berjumlah lebih dari 10 orang berjumpa langsung dengan harimau diduga Bonita.

Jarak mereka dengan satwa dilindungi itu hanya sekitar tiga meter. "Itu sudah antara hidup dan mati anggota kita saat itu. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali berdoa," ujarnya.

Beruntung, katanya, seluruh personel penyelamat harimau berhasil lepas dari maut, setelah tim cadangan dari kepolisian membantu mereka serta menembakkan senjata api ke udara.

Hutomo tidak menampik bahwa kejadian itu menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menggunakan senjata bius sebagai pilihan terakhir menyelamatkan dan merelokasi harimau Sumatera tersebut ke habitat yang lebih baik.

Sumber : Tempo

Tag : harimau
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top