Guru Dianiaya Hingga Tewas: Gunung Es Kasus Kekerasan Di Sekolah

Wajah pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Problema kekerasan di dunia pendidikan seolah solah tak pernah ada ujung
Asteria Desi Kartika Sari | 10 Februari 2018 08:59 WIB
Sianit Sinta menujukkan foto mendiang suaminya Ahmad Budi Cahyanto guru SMAN 1 Torjun yang tewas dipukul siswanya sendiri, di Desa Tanggumung, Sampang, Jawa Timur, Sabtu (3/2/2018). Ahmad Budi Cahyanto tewas dipukul siswanya sendiri MH saat pelajaran berlangsung, Jumat (1/2/2018). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Wajah pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Problema kekerasan di dunia pendidikan seolah solah tak pernah ada ujungnya. Dari tahun ke tahun, kasus demi kasus terus bermunculan seolah tidak ada titik terang.

Tengok saja kasus penganiayaan yang dilakukan seorang siswa terhadap guru SMAN 1 Torjun Sampang, Jawa Timur yang berujung dengan maut.

Kasus ini terjadi pada Kamis (1/2/2018), ketika itu guru sedang mengisi pelajaran seni lukis. Penganiayaan terjadi ketika siswa tidak terima ditegur oleh guru karena melalaikan tugas.

Kasus kekerasan yang terjadi itu merupakan salah satu dari sekian kasus yang belum mampu diselesaikan. Kasus-kasus kekerasan di sekolah seperti fenomenan gunung es, artinya kasus yang terjadi jauh lebih banyak dari yang tampak.

Erlinda, Komisoner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menuturkan masih banyak catatat yang harus diperbaiki di dunia pendidikan Tanah Air.

Salah satunya adalah pendidikan karakter yang masih minim. Meski upaya telah dilakukan, namun hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

Dia mengatakan fenomena kekerasan seorang siswa dan guru terjadi lantaran adanya pergeseran nilai etika, moral, dan cara pandang menuju ke arah negatif, bahkan menjurus ke perilaku kriminal.

“Ada suatu perubahan yang tidak dibarengi dengan kekuatan, kita sudah masuk teknologi informasi atau peradaban baru, tetapi kita belum menguatkan mental dan perilaku anak dengan perilaku unggul,”  tutur Erlinda.

Artinya, Erlinda menilai gaya asuh terhadap anak harus ada perubahan. Pasalnya, saat ini kebanyakan guru atau orang tua masih mendidik dengan pola asuh zaman dulu. Padahal yang dihadapi saat ini adalah anak ‘zaman now’, yang memiliki pola pikir dan gaya hidup yang berbeda.

“Kami melihat pergeseran karakternya sangat jauh, pekerjaan rumahnya adalah orang tua tidak memiliki kemampuan pola asuh di era digital,” katanya.

Untuk menyelesaikan pekerjaan rumah itu, lanjutnya, perlu dorongan khususnya dari pemerintah daerah untuk membentuk program parenting guna membantu mengembangkan mental keluarga. Apalagi, saat ini respek dari anak terhadap orang tua cenderung minim.

“Masyarakat [keluarga] juga harus diberikan pengetahuan tentang komunikasi dengan anak zaman sekarang,” katanya.

Selain itu, guru juga memiliki peranan yang penting untuk mengembangkan karakter siswa.  Ironisnya, saat ini manajemen kelas yang dilakukan guru masih minim.

Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif, seoran guru harus mengenali secara tepat segala macam permasalahan. Seringkali hal tersebut dilalaikan karena tanggung jawab guru yang terlalu banyak untuk menyiapkan segala macam administrasi. Alhasil saat bertemu dengan siswa,  guru hanya sebatas mentransfer pengetahuan lalu selesai.

Suparman, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia mengatakan terkait dengan fenomena kekerasan yang sering terjadi di sekolah, ada beberapa aspek penyebab yang harus dikaji bersama baik dengan pemerintah ataupun dengan lembaga masyarakat dan orang tua.

“Harus dipetakan hal apa saja yang mempengaruhi siswa melakukan perilaku kekerasan, apakah sosial, kondisi ekonomi keluarga, atau media,” katanya.

Pasalnya, dia menilai perilaku anak dapat dipengaruhi oleh apa yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh adalah menonton televisi juga dapat mempengaruhi karakter.

“Kadang ada sinetron yang memuat konten kekerasan. Hal tersebut juga dapat melunturkan nilai penghormatan anak kepada orang tua ataupun terhadap guru,” jelasnya.

Di sisi lain, seorang guru harus memperbarui pola pembelajaran atau pola berpikir untuk menghadapi generasi saat ini. “Misalnya mendisiplinkan anak tidak dengan kekerasan fisik ataupun verbal, sehingga menyebabkan mereka tidak suka dengan gurunya,” katanya.

Tag : sekolah
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top