Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cryptocurrency Belum Bisa Jadi Safe Haven

Mata uang virtual (cryptocurrency) gagal membuktikan perkiraan para pengamat, yang menyebutnya sebagai aset safe haven global.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 05 Februari 2018  |  20:08 WIB
Cryptocurrency Belum Bisa Jadi Safe Haven
Ilustrasi bitcoin. - Reuters/Dado Ruvic
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA — Mata uang virtual (cryptocurrency) gagal membuktikan perkiraan para pengamat, yang menyebutnya sebagai aset safe haven global.

Pasalnya, di tengah merosotnya saham Asia dan AS akibat laporan tenaga kerja Amerika Serikat (AS), mata uang virtual tetap belum dapat menarik minat investor sebagai lokasi lindung nilai.

Hal itu tercermin dari data Bloomberg Composit. Bitcoin yang merupakan mata uang virtual paling populer di dunia, nilainya terus merosot hingga 7% menjadi US$7.972 per koin pada Senin (5/2/2018).

Penurunan tersebut melanjutkan tren negatif yang terjadi sejak bulan lalu. Hingga hari ini, nilai Bitcoin telah jatuh hingga 22%. Kondisi serupa juga dialami oleh cryptocurrency lainnya seperti Ripple,Etherum dan Litecoin.

Data serupa pun muncul di laman Coinmarketcap.com, di mana 10 besar mata uang virtual dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di dunia, kompak memerah. Penurunan bahkan mencapai dua digit.

Bitcoin, pada hari ini tercatat turun 11,94% dalam 24 jam terakhir, per 19.26 WIB. Semetara itu Ethereumd an Ripple masing-masing turun 13,30% dan 14,54%.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada aset saf haven klasik seperti emas. Komoditas tersebut tercatat naik tipis 0,1% menjadi US$1,335 per once. Logam kuning tersebut terekam telah menguat 2,5% sepanjang tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin cryptocurrency
Editor : Gita Arwana Cakti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top