Hati-hati! Akun Medsos Bisa Jadi Portofolio Anda

Akun media sosial seseorang bukan tidak mungkin dapat dijadikan referensi sebagai curriculum vitae (CV) atau portofolio seseorang.
Thomas Mola | 04 Desember 2017 00:49 WIB
Ilustrasi - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Akun media sosial seseorang bukan tidak mungkin dapat dijadikan referensi sebagai curriculum vitae (CV) atau portofolio seseorang. Kata-kata yang ditampilkan melalui akun media sosial dapat mencerminkan siapa diri Anda.

Demikian salah satu kesimpulan dari talkshow Saring Dulu Baru Sharing, Bijak Dengan Media Sosial yang diselenggarakan Gereja Katolik Santo Matheus, Depok, pada Minggu (3/12/2017). Talkshow dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Natal 2017 oleh panitia Natal Gereja Katolik Santo Matheus Depok.

Hadir sebagai pembicara Head of Socmed Crisis Center Kantor Staf Kepresidenan RI Alois Wisnuhardana; psikolog Best Seller Author Rising Children In Digital Era Elizabeth T. Santosa; dan Margareta Astaman, praktisi sosial media Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Alois mengatakan dari hasil sejumlah riset, saat ini empat dari 10 orang aktif bermedia sosial, sekitar 60% tidak mempunyai rekening tabungan, tetapi 85% memiliki telpon seluler (ponsel). Selain itu orang tidak melihat ponsel paling lama 7 menit, mengakses Internet rata-rata 8-11 jam sehari, dan minat baca masyarakat Indonesia ke-60 dari 61 negara.

Dia menjelaskan dari 262 juta penduduk Indonesia, terdapat 371,4 juta pengguna ponsel di mana 132,7 juta merupakan pengguna Internet dan 106 juta diantaranya pengguna media sosial. Untuk itu, sangat penting untuk secara bijak menggunakan media sosial dan menghindari berita hoax.

“Saring dulu sebelum sharing. Sosial media akan menjadi portofolio atau menjadi CV kita di kemudian hari. Tidak mustahil, kemungkinan nanti untuk pengajuan ke luar negeri akan melihat akun media sosial kita,” ujar Alois.

Pada kesempatan yang sama, Margareta mengatakan kejadian kurang enak terkait status di akun media sosial sudah banyak terjadi. Contohnya kasus penolakan mahasiswa oleh Harvard University, Amerika Serikat. Harvard University telah mencabut tawaran pendaftaran masuk setidaknya 10 calon mahasiswa yang sebelumnya telah diterima.

Beberapa calon mahasiswa tahun pertama yang akan masuk itu membuat sebuah grup Facebook pribadi. Dalam grup tersebut, mereka bertukar gambar dan pesan yang secara eksplisit bernada rasisme.

“Tentunya kita tidak ingin ini terjadi kepada kita maupun anak-anak kita kelak kan. Yuk gunakan sosial media sebagai rekam jejak positif yang dapat mendukung karir dan cita cita kita. Ajak orang sekitar kita untuk ber-sosmed yang positif,” tuturnya.

Elizabeth menyoroti perilaku orang bersosial media yang akan menyebabkan kecanduan. Menurutnya, banyak keluarga yang mengeluh tercerai berai akibat anggota keluarganya yang kecanduan media sosial.

Dia menambahkan tak jarang, orang-orang yang suka akan berita hoax biasanya sudah mengerti media sosial  tetapi kurang pemahaman akan konten yang dimaksud. Dengan demikian perlu dikembalikan ke pendidikan terdasar untuk ilmu logika dan filsafat ataupun psikologi.

“Pengguna medsos harus diedukasi. Jiwa muda dan anak-anak perlu didik, anak-anak masih murni. Kita harus memberikan pemahaman akan logika dan filsafat sejak dasar ke anak-anak kita agar mereka tidak salah dalam bermedia sosial. Untuk orang dewasa sudah susah, sudah ¾ gelasnya penuh, namun perlu terus menerus dilatih untuk positif bermedia sosial,” kata Elizabeth.

Tag : media sosial
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top