Lembaga Sensor Film Klarifikasi Isu Penistaan Agama Dalam Naura & Genk

Setelah film Naura dan Genk dirilis minggu lalu, berbagai tanggapan positif maupun negatif muncul di masyarakat. Mereka yang tidak menyenangi film in iberanggapan bahwa sutradara Eugene Panji telah melakukan penistaan atas agama Islam dalam film ini.
Ilman A. Sudarwan | 25 November 2017 15:45 WIB
Presiden Direktur PT Suntory Garuda Beverage Indonesia, Fransiskus Johny Soegiarto (dari kanan), pemeran Naura, Naura, dan pemeran Okky, Okky Josh, berbincang di sela-sela konferensi pers film drama musikal Naura & Genk Juara di Jakarta, Selasa (14/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Kabar24.com, JAKARTA - Setelah film Naura dan Genk dirilis minggu lalu, berbagai tanggapan positif maupun negatif muncul di masyarakat. Mereka yang tidak menyenangi film in iberanggapan bahwa sutradara Eugene Panji telah melakukan penistaan atas agama Islam dalam film ini.

Hal tersebut diungkap melalui akun Windi Ningsih yang membuat petisi di Change.org. Dia menyebut film ini telah mendiskreditkan agama Islam dengan menggambarkan karakter penjahat dalam film ini dengan atribut-atribut yang dekat dengan umat Islam Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia akhirnya angkat suara. Ketua LSF Ahmad Yani Basuki menjelaskan bahwa dalam film ini tidak ada konten yang cukup menjelaskan tuduhan penistaan agama tersebut.

Menurutnya, film ini justru seharusnya bisa ditanggapi dengan positif. Film ini bisa mengobati kerinduan masyarakat Indonesia atas film anak-anak yang mampu mendidik generasi muda di Indonesia.

Dia bahkan mensejajarkan film ini dengan film Petualangan Sherina yang dirilis pada 2000. Ini dia kutipan lengkap dari Ahmad Yani Basuki yang diterima Bisnis.

"Film ini film musikal (seperti Petualangan Sherina). Berkisah tentang rombongan anak sekolah yang berkegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan itu ada 3 orang penjahat yang melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi yang ternyata didalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang dan bertampilan agak kasar, sebagaimana layaknya tampilan penjahat pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek bukan celana cingkrang. Oleh karena itu jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yang sering dipandang sebagai radikal/ teroris, karena jenggot dan model celananya.

Sebagai film setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa-bisa saja penjahatnya beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim penjahat non muslim. (Seperti dalam film Home Alone misalnya)

Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam. Tapi yang dibaca salah 'comot', yaitu doa mau makan. Karena itu ditegur temannya, doanya salah, doa makan. Ketahuan penjahatnya muslim- ya karena dia baca doa itu, yang cenderung latah-latah juga. Tapi tidak ada penggambaran spesifik atau kesan penegasan bahwa muslim itu jahat.

Tidak bedanya jika ada film tentang kasus korupsi lalu koruptornya di dalam bui berdoa atau shalat, itu sama sekali tak berarti merepresentasikan Islam/umat Islam itu jahat. Bagi LSF, tidak terlihat adanya bagian yang secara jelas mendiskreditkan Islam?

Jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Kita tahu kalo penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar. Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam.

Untuk memahami film "Naura dan Genk Juara", kiranya memang perlu menonton langsung filmya. Dan akan semakin baik kalau pernah menonton film Petualangan Sherina, Home Alone dan atau Jenderal Kancil yg diperankan Ahmad Albar di masa kecilnya dahulu."

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top