Menhan Amerika, Jim Mattis, Diserang di Bandara Afghanistan

Para milisi dan pengebom bunuh diri pemberontak Afghanistan menyerang bandara Kabul saat Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis berkunjung ke negara itu kemarin.
John Andhi Oktaveri | 28 September 2017 09:25 WIB
Menteri Pertahanan AS James Mattis (kiri) berjalan dengan Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford dari sayap Barat Gedung Putih untuk membuat sebuah pernyataan atas pengujian nuklir Korea Utara yang diuji coba Minggu (3/9/2017). - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Para milisi dan pengebom bunuh diri pemberontak Afghanistan menyerang bandara Kabul saat Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis berkunjung ke negara itu kemarin.

Serangan itu memicu serangan balasan dari pihak Angkatan Udara AS, sehingga mengakibatkan tewasnya sejumlah masyarakat sipil.

Bentrokan dan jatuhnya korban masyarakat sipil tersebut menciderai kunjungan Menhan AS yang berencana akan memberikan dukungan kepada pemerintah Afghanistan.

Kunjungan itu bertujuan untuk membantu pemerintah Afghanistan menghindari risiko yang ditimbulkan dari kebijakan yang agresif karena meningaktnya intensitas serangan AS.

Beberapa jam setelah Mattis menginjakan kakiknya di bandara, para milisi menembakkan bahan peledak dan mortir serta melakukan serangan bunuh diri yang diklaim dilakukan oleh kelompok Taliban dan ISIS.

Milisi bersenjata juga terkonsentrasi di dekat sebuah posko pasukan keamanan sepanjang hari. Pada saat yang sama pasukan AS melakukan latihan serangan udara untuk mendukung unit kepolisian khusus untuk menghadapi para penyerang.

Tanpa diduga terjadi kesalahan fungsi peluru kendali yang mengakibatkan jatuhnya korban tewas dari kalangan masyarakat sipil yang berada di dekat latihan tersebut, menurut keterangan pasukan NATO yang dipimpin AS di sana.

“Satuan Resolute Support sangat menyesalkan bencana yang terjadi pada masyarakat sipil,” menurut pernyataan pihak NATO sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (28/9/2017).

Disebutkan, bahwa pihaknya telah memberi peringatan agar tidak ada korban di pihak masyarakat sipil namun pemberontak Afghanistan terus beroperasi dengan menggunakan masyarakat sipil sebagai tameng sehingga berisiko tinggi.

Tag : Donald Trump
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top