Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Kata Bos Chevron soal Krisis Energi di Indonesia

Bos Chevron menyinggung soal krisis energi sebagai masalah paling krusial di Indonesia.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 01 Juli 2017  |  20:54 WIB
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Wakil Presiden ADB Bambang Susantono (ketiga kiri), CEO Credit Suisse Asia Pacific Helman Sitohang (kedua kiri), Peneliti Lee Kuan Yew School Mulya Amri (kiri), Managing Director of Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor (ketiga kanan) dan Moderator Muhammad Al-Arief (kanan) memberi paparan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7). - ANTARA/Rosa Panggabean
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) bersama Wakil Presiden ADB Bambang Susantono (ketiga kiri), CEO Credit Suisse Asia Pacific Helman Sitohang (kedua kiri), Peneliti Lee Kuan Yew School Mulya Amri (kiri), Managing Director of Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor (ketiga kanan) dan Moderator Muhammad Al-Arief (kanan) memberi paparan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7). - ANTARA/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA -- Bos Chevron menyinggung soal krisis energi sebagai masalah paling krusial di Indonesia.

Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor mengatakan produksi minyak 5 tahun mendatang bakal terus menurun. Di sisi lain, konsumsi justru terus naik sehingga terdapat selisih yang terus bertambah setiap tahunnya untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebagai gambaran, saat ini produksi minyak dalam negeri sekitar 800.000 barel per hari (bph) dengan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 1,6 juta bph.

"Krisis energi ini masalah yang paling krusial di Indonesia," ujarnya dalam sesi panel di acara 4th Congress Indonesian Diaspora di Jakarta, Sabtu (1/07/2017).

Adapun, dia menilai lesunya produksi migas berasal dari turunnya investasi sektor hulu.

Bila hal itu dibiarkan, pemerintah perlu mengimpor untuk sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri. Impor, ujar Chuck, berarti memberikan potensi Indonesia kepada industri hulu migas negara lain sebagai penyedia pasokan.

Padahal, tuturnya, untuk bisa menarik investasi di sektor hulu migas, pemerintah perlu menjamin kepastian hukum dan fiskal. Sektor hulu migas, katanya, memberikan dampak signifikan yakni menyumbang US$23,7 miliar pada pertumbuhan ekonomi.

Setiap investasi sebesar US$1 juta menghasilkan penambahan pertumbuhan ekonomi sebesar US$0,7 juta dan menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 100 orang. Selain itu, berperan dalam terserapnya kandungan dalam negeri baik berupa jasa dan tenaga serta meningkatkan transaksi bank nasional.

"Kita harus impor energi setiap tahun. Secara fundamental harus impor. Impor berarti mengirim potensi kapabilitas Indonesia kepada negara lain," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi
Editor : Maria Yuliana Benyamin
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top