Indonesia dan PBB Kerja Sama Berantas Kejahatan Perikanan

Duta Besar RI untuk Austria Darmansjah Djumala mengungkapkan, perkembangan positif kerja sama Indonesia dengan United Nations Office in Vienna (UNOV), khususnya United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), terkait komitmen Indonesia untuk terus memerangi kejahatan transnasional terorganisir, korupsi, dan kejahatan perikanan.
Andhina Wulandari | 25 Juni 2017 06:50 WIB
Penyerahan credentials Duta Besar RI untuk Austria DR. Darmansjah Djumala kepada Direktur Jenderal UNOV Duta Besar Yury Fedotov, di Wina, Austria, Jumat (23/6/2017)./Dok. KBRI - PTRI Wina

Kabar24.com, WINA – Duta Besar RI untuk Austria Darmansjah Djumala mengungkapkan, perkembangan positif kerja sama Indonesia dengan United Nations Office in Vienna (UNOV), khususnya United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), terkait komitmen Indonesia untuk terus memerangi kejahatan transnasional terorganisir, korupsi, dan kejahatan perikanan.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar Djumala saat menyerahkan surat kepercayaan (credentials) kepada Direktur Jenderal UNOV yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif UNODC, Duta Besar Yury Fedotov, di Wina, Austria, Jumat (23/6/2017).

Djumala turut menekankan pentingnya Indonesia dan UNODC untuk terus meningkatkan kerja sama, antara lain di bidang pemberantasan korupsi, teroris, serta penyalahgunaan dan perdagangan ilegal obat-obatan terlarang.

Djumala juga menyoroti kejahatan perikanan yang saat ini semakin marak terjadi, tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia.

“Kejahatan perikanan telah berkembang menjadi kejahatan transnasional yang sangat serius dan terorganisir. Banyak pihak yang melakukan kejahatan pencurian ikan terlibat juga dalam aktifitas kejahatan transnasional lainnya, seperti pencucian uang, suap, penyelundupan narkoba, penyelundupan senjata, perdagangan orang, kerja paksa, kejahatan perpajakan, dan lain sebagainya,” ujar Djumala, dalam siaran pers, Sabtu (24/6/2017).

Selanjutnya, Djumala menyampaikan keprihatinannya bahwa perhatian masyarakat internasional atas kejahatan perikanan masih terbilang rendah, padahal dampak kejahatan tersebut sangat merugikan.

Oleh karena itu, Djumala menegaskan pentingnya UNODC dalam kapasitasnya memberikan perhatian khusus terhadap kejahatan transnasional terorganisir di bidang perikanan dan turut berperan aktif, baik dalam bentuk peningkatan kesadaran masyarakat maupun bantuan teknis dalam upaya memberantas kejahatan tersebut.

Duta Besar Fedotov menyambut hangat kedatangan Duta Besar Djumala di Wina, serta menyampaikan komitmen untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia, khususnya KBRI/PTRI Wina yang telah terjalin dengan baik selama ini.

Fedotov memandang Indonesia merupakan salah satu key countries dan champion dalam isu-isu yang merupakan ranah UNODC. Secara khusus, Fedotov menyampaikan apresiasi atas peran aktif dan kontribusi Indonesia pada UNODC, antara lain atas komitmen dan kerja keras Indonesia selama menjadi Presiden United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNTOC) periode 2012-2014.

UNODC merupakan badan PBB yang berperan penting dalam upaya memerangi kejahatan transnasional, termasuk terorisme, perdagangan obat terlarang dan korupsi. UNODC mendapat mandat untuk membantu negara anggota PBB melalui tiga pilar program kerja, yaitu bantuan teknis guna membangun kapasitas negara anggota, kegiatan riset, dan mendorong ratifikasi dan implementasi konvensi internasional terkait seperti UNTOC dan United Nations Convention against Corruption (UNCAC) ke dalam legislasi nasionalnya. UNODC didirikan pada tahun 1997 dan bermarkas di Wina, Austria.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top