Peradaban Pompeii Hancur Bukan Karena Lava Gunung Berapi

Pompeii adalah kota kuno Campania di wilayah selatan Italia. Kota ini berada di dataran tinggi 30 m dari permukaan laut. Pada Agustus 79 M, Pompeii mengakhiri eksistensinya dengan tragis karena letusan gunung berapi Vesuvius.
Dika Irawan | 21 April 2017 15:53 WIB
Pompeii adalah kota kuno Campania di wilayah selatan Italia. Kota ini berada di dataran tinggi 30 m dari permukaan laut - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pompeii adalah kota kuno Campania di wilayah selatan Italia. Kota ini berada di dataran tinggi 30 m dari permukaan laut. Pada Agustus 79 M, Pompeii mengakhiri eksistensinya dengan tragis karena letusan gunung berapi Vesuvius.

Nama Pompeii kembali mengemuka setelah penemuan arkeologinya pada abad ke-18. Data arkeologi menunjukkan tulang korban dan tulang manusia terakhir yang terpapar panas pada suhu 100 derajat sampai 800 derajat.

"Pompeii benar-benar habis setelah bencana itu. Pompeii tidak terkena lava tetapi awan panas ," kata arkeolog Michele Raddi usai seminar arkeolog di Institut Kebudayaan Italia, Jakarta, Kamis (20/4/2017) malam.

Raddi yang juga pengajar arkologi di Universitas Udayana Bali itu mengatakan, berbeda dengan kota-kota lainnya yang dapat bangkit lagi setelah terkena bencana tersebut. Pompeii begitu terpapar bencana langsung terkubur berabad-abad lamanya.

A restorer works in the ancient Roman city Pompeii, which was buried in AD 79 by an eruption of the Vesuvius volcano, February 6, 2013. REUTERS/Ciro De Luca

Dalam diskusi tersebut, Raddi juga menampilkan video skenario detik-detik kehancuran Pompeii akibat letusan gunung api. Letusan terjadi pada siang hari, ditandai dengan gempa. Kemudian di sore hari, gunung mulai menyemburkan batu-batu. Pada dini hari, Pompeii digulung awan panas bercampur abu.

TRAGIS: Eksistensinya berakhir karena letusan gunung berapi Vesuvius.

Studi paling ilmiah tentang Pompeii menunjukkan letusan gunung api itu menghasilkan efek dahsyat menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya.

Hasil gambar untuk Pompeii, Reuters

Foto-Foto: Reuters

Tag : arkeologi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top