Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jakarta Bakal Diguyur Hujan Es Lagi. Berikut Tanda-tandanya

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mengatakan, hujan es kemungkinan besar masih bisa terjadi lagi selama musim transisi atau pancaroba pada Maret, April dan Mei 2017
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Maret 2017  |  13:34 WIB
Awan cumulonimbus - en.wikipedia.org
Awan cumulonimbus - en.wikipedia.org

Kabar24.com, JAKARTA - Fenomena hujan es yang terjadi di Jakarta pada Selasa (28/03) kemarin, sempat menjadi topih hangat di media sosial. Fenomena itu kemungkinan masih bisa terjadi lagi.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mengatakan, hujan es kemungkinan besar masih bisa terjadi lagi selama musim transisi atau pancaroba pada Maret, April dan Mei 2017

"Kalau kita lihat dari kejadian-kejadian ini pada umumnya terjadi pada saat pancaroba dan biasanya terjadi pada Maret, April, Mei," kata Andi Eka Sakya di Jakarta, Rabu.

Sebelumnya sejumlah wilayah di Jakarta mengalami hujan lebat dan es pada Selasa (28/3) disertai petir dan angin kencang dengan durasi singkat.

Terkait hal tersebut, ia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai peristiwa serupa karena hujan es yang turun dalam ukuran cukup besar dan dapat merusak.

Berikut tanda-tanda akan terjadi hujan es:

Menurut dia BMKG sudah mengeluarkan peringatan akan tanda-tanda alam tersebut dengan indikasi antara lain:

1. Udara pada sehari sebelumnya terasa panas dan gerah. Udara terasa panas dan gerah tersebut diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi.

2. Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus yaitu awan putih yang berlapis-lapis, di antara awan etrsebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

3. Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus (Cb).
Pepohonan disekitar tempat kita berdiri ada dahan dan rantingnya yang mulai bergoyang cepat, serta terasa ada sentuhan udara dingin disekitar kita berdiri.

Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras yang tiba-tiba, apabila hujan gerimis maka kejadian angin kencang tidak terjadi.

Jika dalam satu hingga tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim pancaroba, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak.

Di samping itu, pada kejadian hujan es tersebut bersamaan dengan siklon tropis Debby yang terjadi di timur laut Australia yang menyebabkan terjadi konvergensi mulai dari Sumatera Selatan memanjang sampai ke NTT.

"Ini yang membuat pumpunan awan menjadi sangat labil kemudian menyebabkan hujan es," tambah Andi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BMKG

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top