KABUT ASAP: Satgas di Sumsel Intensifkan Hujan Buatan

Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Sumatra Selatan pada November 2015 mengintensifkan penerapan teknologi modifikasi cuaca berupa hujan buatan untuk mengoptimalkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 02 November 2015  |  14:41 WIB
KABUT ASAP: Satgas di Sumsel Intensifkan Hujan Buatan
Pesawat komersial milik salah satu maskapai penerbangan bersiap lepas landas di Bandara Sultan Mahmud Baddarudin (SMB) II, Palembang, Sumsel, Senin (12/10/2015) yang tertutup oleh kabut asap. - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, PALEMBANG ---  Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Sumatra Selatan pada November 2015 mengintensifkan penerapan teknologi modifikasi cuaca berupa hujan buatan untuk mengoptimalkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

"Jumlah titik panas saat ini berhasil diminimalkan oleh tim gabungan yang melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui darat dan udara, untuk mencegah terjadinya peningkatan jumlah titik panas dan kembali menebalnya kabut asap selain tetap menjalankan operasi pemadaman yang telah berjalan selama ini juga diintensifkan melakukan hujan buatan," kata Wakil Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Asap Sumatera Selatan Yulizar Dinoto di Palembang, Senin (2/11/2015).

Dia menjelaskan kegiatan hujan buatan didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Untuk melakukan kegiatan teknologi modifikasi cuaca (TMC), saat ini menggunakan pesawat jenis Hercules milik TNI AU yang memiliki kemampuan menebar garam yang lebih besar dari pesawat jenis Cassa yang digunakan sebelumnya.

Menurut dia, operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan terutama pada lahan gambut di kawasan Kabupaten Ogan Komering Ilir yang cukup luas dan sulit dijangkau, bisa lebih efektif dan cepat jika bisa diupayakan hujan buatan.

Untuk melakukan hujan buatan, pihaknya terus melakukan pemantauan cuaca dan jika terdapat awam cumulonimbus yang bisa memicu terjadinya hujan, tim akan terbang menggunakan pesawat yang dapat melakukan TMC.

Menurut dia, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan dampak musim kemarau yang menyelimuti udara Kota Palembang dan beberapa wilayah Sumsel lainnya sejak akhir Agustus 2015, saat ini mulai menipis.

Untuk mencegah kembali menebalnya kabut asap, katanya, selain operasi pemadaman melalui darat dan udara, perlu diupayakan secara intensif hujan buatan agar masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu, benar-benar terbebas dari asap Kasi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama menjelaskan bahwa peluang keberhasilan melakukan hujan buatan pada November 2015 cukup besar.

"Hujan buatan yang sebelumnya sulit dilakukan Tim Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel untuk mengatasi masalah kabut asap, kini peluangnya cukup besar karena mulai terdeteksi awan pembawa hujan cumulonimbus," ujarnya.

Hujan buatan atau TMC yang dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan penyebab bencana kabut asap di wilayah Sumsel dalam dua bulan terakhir, katanya, perlu dilakukan karena hujan normal diprakirakan turun pada pertengahan November.

Dengan mulai terdeteksi terbentuk awan cumulonimbus yang mendukung untuk kegiatan TMC itu, tim satgas tersebut bisa lebih memaksimalkan kegiatan melakukan hujan buatan, kata Indra.

Palembang, 2/11 (Antara) - Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Sumatera Selatan pada November 2015 mengintensifkan penerapan teknologi modifikasi cuaca berupa hujan buatan untuk mengoptimalkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

"Jumlah titik panas saat ini berhasil diminimalkan oleh tim gabungan yang melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui darat dan udara, untuk mencegah terjadinya peningkatan jumlah titik panas dan kembali menebalnya kabut asap selain tetap menjalankan operasi pemadaman yang telah berjalan selama ini juga diintensifkan melakukan hujan buatan," kata Wakil Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Asap Sumatera Selatan Yulizar Dinoto di Palembang, Senin.

Dia menjelaskan kegiatan hujan buatan didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Untuk melakukan kegiatan teknologi modifikasi cuaca (TMC), saat ini menggunakan pesawat jenis Hercules milik TNI AU yang memiliki kemampuan menebar garam yang lebih besar dari pesawat jenis Cassa yang digunakan sebelumnya.

Menurut dia, operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan terutama pada lahan gambut di kawasan Kabupaten Ogan Komering Ilir yang cukup luas dan sulit dijangkau, bisa lebih efektif dan cepat jika bisa diupayakan hujan buatan.

Untuk melakukan hujan buatan, pihaknya terus melakukan pemantauan cuaca dan jika terdapat awam cumulonimbus yang bisa memicu terjadinya hujan, tim akan terbang menggunakan pesawat yang dapat melakukan TMC.

Menurut dia, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan dampak musim kemarau yang menyelimuti udara Kota Palembang dan beberapa wilayah Sumsel lainnya sejak akhir Agustus 2015, saat ini mulai menipis.

Untuk mencegah kembali menebalnya kabut asap, katanya, selain operasi pemadaman melalui darat dan udara, perlu diupayakan secara intensif hujan buatan agar masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu, benar-benar terbebas dari asap Kasi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama menjelaskan bahwa peluang keberhasilan melakukan hujan buatan pada November 2015 cukup besar.

"Hujan buatan yang sebelumnya sulit dilakukan Tim Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel untuk mengatasi masalah kabut asap, kini peluangnya cukup besar karena mulai terdeteksi awan pembawa hujan cumulonimbus," ujarnya.

Hujan buatan atau TMC yang dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan penyebab bencana kabut asap di wilayah Sumsel dalam dua bulan terakhir, katanya, perlu dilakukan karena hujan normal diprakirakan turun pada pertengahan November.

Dengan mulai terdeteksi terbentuk awan cumulonimbus yang mendukung untuk kegiatan TMC itu, tim satgas tersebut bisa lebih memaksimalkan kegiatan melakukan hujan buatan, kata Indra.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kabut Asap

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup