Delegasi Uni Eropa Adopsi Bayi Gajah Bernama Eropa

Delegasi Uni Eropa di Jakarta mengadopsi Eropa, bayi gajah yang lahir di Hutan Konservasi Tangkahan, Kawasan Ekosistem Leuser untuk memperkuat upaya konservasi dan mendorong ekowisata berbasis masyarakat.
Annisa Sulistyo Rini | 02 November 2015 20:45 WIB

Kabar24.com, JAKARTA--Delegasi Uni Eropa di Jakarta mengadopsi Eropa, bayi gajah yang lahir di Hutan Konservasi Tangkahan, Kawasan Ekosistem Leuser untuk memperkuat upaya konservasi dan mendorong ekowisata berbasis masyarakat.

Kepala Bagian Kerjasama Delegasi UE untuk Indonesia Frank Viault mengatakan pemberian nama dan adopsi Eropa yang lahir pada 1 September 2015 ini menandai
komitmen jangka panjang UE terhadap keunikan KEL dan kontribusi UE senilai lebih dari €50 juta untuk melindungi dan menjaga keberlangsungan hutan-hutan di Aceh dan Sumatra Utara.

"Di awal tahun ini, delegasi UE juga telah mengadopsi gajah muda bernama Aras yang membantu menjaga dan melindungi bagian timur KEL dan menjadi bagian dari Unit Patroli Gajah Aras Napal," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Senin (2/11/2015).

Frank menjelaskan tujuan mengadopsi Aras adalah untuk menarik perhatian publik terhadap pentingnya konservasi dan meningkatkan kesadaran akan dampak perubahan iklim.

Duta Besardesignate Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guérend mengatakan pengadopsian bayi gajah bernama Eropa tersebut akan membantu memperkuat aspek lain
yang juga penting di KEL, yaitu kemitraan konservasi antara Hutan Konservasi Tangkahan dan masyarakat setempat, yang telah meninggalkan pembalakan liar dan beralih kepada ekowisata berkelanjutan.

"Kami juga berharap pengadopsian ini akan membangkitkan kesadaran generasi muda mengenai bahaya dari perburuan gajah,” ujarnya.

Keputusan pemberian nama Eropa melambangkan dukungan UE dan pentingnya ekowisata. Hingga kini, mayoritas ekowisatawan asing yang mengunjungi Tangkahan berasal dari Eropa.

“Menurut kami, kemitraan konservasi ini telah terbukti sukses dan dapat menjadi model bagi ekowisata berbasis masyarakat. Untuk memastikan upaya konservasi berkelanjutan, maka perlu untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan yang juga meningkatkan mata
pencaharian masyarakat di tepi hutan,” kata Edi Sunardi, Manajer CRU Tangkahan.

Tag : kawasan konservasi, gajah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top