Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Ciri-ciri Anak Mulai Tunjukkan Sikap Kekerasan di Sekolah

Sekretaris KPAI Erlinda mengatakan biasanya perkelahian di sekolah terjadi karena perselisihan pendapat atau perebutan sesuatu.
Yulianisa Sulistyoningrum
Yulianisa Sulistyoningrum - Bisnis.com 21 September 2015  |  09:28 WIB
Ilustrasi - Theparentwithin
Ilustrasi - Theparentwithin

Kabar24.com, JAKARTA- Terkait kasus kekerasan yang baru ini terjadi di SD Negeri Pagi 02 Kebayoran Lama Utara yang menyebabkan kematian AN siswa kelas 2 SD akibat dipukul saat berkelahi di sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sedang mendalami penyebab kasus ini.

Sekretaris KPAI Erlinda mengatakan, biasanya perkelahian disekolah terjadi karena perselisihan pendapat atau perebutan sesuatu.

"Perkelahian terjadi karena banyak faktor, bisa saja karena selisih pendapat atau berebut sesuatu. Namun yang perlu diperhatikan darimana anak meniru sikap berkelahi, cara memukul atau menonjok orang," paparnya saat dihubungi Bisnis.com, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Namun, kata Erlinda, perkelahian dapat dihindari jika lingkungan sekitar peka terhadap tingkah dan gerak-gerik anak yang telah menunjukkan agresivitas yang tinggi atau telah meluapkan emosi secara berlebihan.

"Jadi seharusnya kalau sudah melihat agresivitas yang tinggi dari si anak, orang-orang di lingkungannya itu harus ekstra perhatian. Dan mengingatkan bahwa untuk mengekspresikan kemarahan bukan harus dengan cara memukul," ujarnya.

Dia menambahkan, anak-anak harus diberitahu secara perlahan-lahan dengan bahasa yang bisa dimengerti mereka.

"Harus diingatkan bahwa memukul itu akan membuat orang terluka dan merugikan orang lain. Orang-orang di sekitarnya harus selalu mengingatkannya dan memberi perhatian padanya," ungkapnya.

Untuk menghindari perkelahian antar teman sebaya di sekolah, guru atau wali kelas juga seharusnya peka terhadap perselisihan yang terjadi di sekolah.

"Seharusnya guru atau orang-orang di lingkungan mereka yang sudah tahu soal perselisihan langsung memanggil atau memberitahu mereka lebih cepat," tuturnya.

Jika terlihat gerak-gerik anak yang menunjukkan keagresifan dan peluapan emosi berlebihan, harus segera bertindak. Tidak boleh didiamkan atau dianggap sepele.

"Anak delapan tahun itu kan belum punya pengalaman hidup ya. Jadi kalau agresivitasnya tinggi harus kita bantu. Harus diajarkan bahwa menyelesaikan masalah bukan dengan kekerasan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kekerasan anak
Editor : Andhina Wulandari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top