Musim Kemarau Lebih Lama, PT BNS Waspadai Kemunculan Titik Api

PT Bhumireksa Nusasejati telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk secara lebih efektif menghindari, mendeteksi dan mengelola keberadaan titik-titik panas di wilayah operasional perusahaan dalam rangka menyikapi datangnya musim kemarau tahun ini.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 19 September 2015  |  13:46 WIB
Musim Kemarau Lebih Lama, PT BNS Waspadai Kemunculan Titik Api
Kabut asap - Antara

Bisnis.com, PEKANBARU -- PT Bhumireksa Nusasejati telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk secara lebih efektif menghindari, mendeteksi dan mengelola keberadaan titik-titik panas di wilayah operasional perusahaan dalam rangka menyikapi datangnya musim kemarau tahun ini.

Dalam keterangan pers yang diterima Bisnis Sabtu (19/9) General Manager PT Bhumireksa Nusasejati Tomi Parikesit mengatakan PT BNS menerapkan secara ketat kebijakan Zero Burning di seluruh wilayah operasionalnya sejak tahun 1990 dan telah disertifikasi oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).Perusahaan saat ini terus memantau situasi yang berlangsung di seluruh lokasi perusahaan dengan seksama.

Pemantauan dilakukan setiap hari melalui sistem Plantation Location Intelligent Universal Management (PLANTINUM) dengan menggunakan data-data dari satelit pada titik panas di peta area konsesi untuk dapat mendeteksinya dengan cepat.Seluruh titik api yang terdeteksi akan segera dilaporkan kepada pihak berwenang dan prosedur yang sama juga diterapkan dalam standar operasional perusahaan.

PT Bhumireksa Nusasejati memiliki 11 menara api di lokasi yang berbeda dalam lahan konsesinya, masing-masing mencapai tingginya hingga 15 meter sehingga pengawasan terhadap terjadinya kebakaran dapat terpantau di wilayah operasi perusahaan.

Di sekitar wilayah operasi tampak terpasang papan pengumuman 'Indeks Bahaya Kebakaran' untuk meningkatkatn kewaspadaan karyawan, bekerjasama dengan enam regu Masyarakat Peduli Api, serta terus mengelola secara efektif praktek pengelolaan air yang terbaik bagi lahan gambut.

"Kami telah melakukan program kesadaran akan dampak negatif dari kegiatan tebas bakar pada masyarakat lokal di empat desa daerah gambut. Hal ini bertujuan untuk mengintensifkan program kesadaran masyarakat, bersama-sama dengan Universitas Riau dan pemerintah setempat," kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
riau, sawit, Kabut Asap, kebakaran hutan

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top