Target Cukai Tembakau Pemerintah Didukung

Lebih dari 20 gabungan organisasi massa, akademisi, serta mahasiswa mendukung penuh kenaikan target cukai tembakau pemerintah dalam RAPBN 2016 yang dianggap ini sebagai win-win solution bagi masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan masalah tembakau di tengah perekonomian negara yang sedang merosot saat ini.
David Eka Issetiabudi | 12 September 2015 17:33 WIB
Lebih dari 20 gabungan organisasi massa, akademisi, serta mahasiswa mendukung penuh kenaikan target cukai tembakau pemerintah dalam RAPBN 2016. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Lebih dari 20 gabungan organisasi massa, akademisi, serta mahasiswa mendukung penuh kenaikan target cukai tembakau pemerintah dalam RAPBN 2016 yang dianggap ini sebagai win-win solution bagi masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan masalah tembakau di tengah perekonomian negara yang sedang merosot saat ini.

Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan UI Hasbullah Thabrany mengatakan cukai rokok dapat menjadi alternatif bagi pemerintah untuk mendanai sektor strategis lain seperti pembangunan, perbaikan performa BPJS, bahkan untuk bantuan memperbaiki kesejahteraan bagi petani dan buruh rokok itu sendiri.

“Suara dukungan ini akan kami serahkan kepada Presiden, DPR RI serta seluruh Kementrian terkait” tuturnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Sabtu (12/9/2015).

Wakil Direktur Lembaga Demografi Universitas Indonesia  Abdillah Ahsan mengatakan  dari Data BPS dan Kementrian Keuangan menunjukkan peningkatan jumlah produksi rokok sebesar 47% dari  235.5  miliar  batang  (2005)  menjadi  346  miliar  batang  (2013),  namun  tren  jumlah  pekerja industri ini justru sebaliknya.

“Kebijakan cukai rokok selama ini sudah pro industri rokok kretek dan kecil dengan melakukan tugasnya untuk perlindungan tenaga kerja melalui penyesuaian tarif.” Ujarnya.

Dukungan kenaikan cukai yang disampaikan oleh masyarakat ini didasarkan pada beberapa fakta berikut:

1.  Berdasarkan perhitungan proyeksi ekonomi, target kenaikan cukai tembakau dalam RAPBN 2016  hanya  akan  menaikkan  harga  rokok  sebesar  Rp  35  per  batang.   Dengan  harga  ini, Indonesia masih menjadi salah satu Negara dengan harga rokok termurah di dunia.

2.  Zat adiktif  dalam  rokok  menyebabkan  permintaan  terhadap  produk ini  inelastik,  artinya perokok tidak akan berhenti membeli rokok dengan perubahan harga yang sangat kecil.

3.  Cukai  pada  rokok  adalah  instrumen  pemerintah  yang  memang  digunakan  untuk mengendalikan penggunaan produk yang mengandung zat adiktif ini yang membahayakan pengguna dan lingkungannya, sesuai dengan filosofi cukai itu sendiri

4.  Penerimaan pemerintah dari cukai rokok tidak sebanding dengan biaya dampak kesehatan yang harus ditanggung Negara

5.  Pembayar cukai bukan industri namun perokok sendiri yang tidak sedikit diantaranya adalah masyarakat miskin.

Dukungan rencana beleid Kementerian Keuangan ini disampaikan oleh, PKEKK UI (Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia), IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia), YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), LD UI (Lembaga Demografi Universitas Indonesia), TCSC (Tobacco Control Support Center), MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center), PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan lainnya.

 

Tag : cukai rokok
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top