Finlandia Rusuh, 30 Orang Ditangkap

Polisi Finlandia dipaksa menggunakan kekerasan untuk menenangkan demonstran dari kelompok sayap-kanan Gerakan Perlawanan Finlandia di Kota Kecil Jyvaskyla di Finlandia Tengah pada Sabtu (1/8/2015).
Martin Sihombing | 02 Agustus 2015 09:30 WIB
Ilustrasi. - REUTERS

Bisnis.com, HELSINKI -  Polisi Finlandia dipaksa menggunakan kekerasan untuk menenangkan demonstran dari kelompok sayap-kanan Gerakan Perlawanan Finlandia di Kota Kecil Jyvaskyla di Finlandia Tengah pada Sabtu (1/8/2015).

Para pengunjuk-rasa memasuki satu pusat pertokoan dan melukai beberapa orang. Sebanyak 32 demonstran dibawa ke tempat penahanan, kata laporan media.

Seorang wakil polisi mengatakan tindakan dengan cepat memasuki pusat pertooan itu tampaknya telah diperintahkan di dalam kelompok tersebut. Mulanya demonstrasi itu berjalan damai.

Menteri Dalam Negeri Finladia Petteri Orpo mengatakan peristiwa di Jyvaskyla serius dan perlu dikutuk.

"Ini adalah petunjuk mengenai fakta bahwa gerakan ekstrem juga meningkat di Finlandia dan pengawasan terhadap mereka harus ditingkatkan," kata Orpo kepada surat kabar Helsingin Sanomat, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi.

Lembaga penyiaran nasional, Yle, di dalam laporan beritanya, menggambarkan Gerakan Perlawanan Finlandia sebagai "organisasi yang mendukung supremasi ras kulit putih dan memiliki ideologi nasional-sosialis".

Orang yang memiliki hubungan dengan organisasi tersebut telah dijatuhi hukuman dalam beberapa tahun belakangan karena peristiwa kerusuhan termasuk serangan di Helsinki beberapa tahun lalu dan penikaman saat peluncuran buku di Jyvaskyla.

Juru Bicara Pasukan Keamanan Rantala mengatakan organisasi itu hanya memiliki beberapa puluh anggota tapi mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sepertinya di negara lain Nordik.

Gerakan Perlawanan tersebut terakhir kali menjadi berita ialah pada Juni, ketika Anggota Parlemen Olli Immonen menghadiri satu acaranya. Partai Immonen, Partai Finlandia, mengatakan anggota parlemen itu telah hadir "sebagai pribadi".

Pekan sebelumnya, Immonen mengundang reaksi besar nasional di Finlandia, setelah ia mengeluarkan pernyataan di akun Facebook yang menggambarkan multikulturalisme sebagai "mimpi buruk".

Kerusuhan di Jyvaskyla terjadi empat hari setelah ribuan orang berunjuk-rasa di beberapa kota besar Finlandia untuk menentang rasisme.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
finlandia

Sumber : Antara/Xinhua-OANA
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top