Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akun Jejaring Sosial Komando Militer AS Diretas Simpatisan ISIS

Akun Twitter dan YouTube milik komando militer AS yang digunakan untuk memantau operasinya di kawasan Timur Tengah diretas oleh orang yang mengaku simpati terhadap kelompok milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Januari 2015  |  09:42 WIB
Akun Jejaring Sosial Komando Militer AS Diretas Simpatisan ISIS
Ilustrasi -
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA— Akun Twitter dan YouTube milik komando militer AS yang digunakan untuk memantau operasinya di kawasan Timur Tengah diretas oleh orang yang mengaku simpati terhadap kelompok milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Aksi kejahatan dunia maya itu dilakukan di tengah AS dan sekutunya sibuk menggempur basis kekuatan ISIS di Irak dan Suriah.

"Pasukan Amerika, kami datang, hati-hati di belakangmu, ISIS," menurut pesan para peretas yang dikirim pada akun U.S. Central Command Twitter tersebut lengkap dengan menggunakan akronim kelompok milisi itu. Kelompok yang membentuk sistem kekalifahan Islam itu saat ini telah berhasil menguasai sejumlah wilayah di Irak dan Suriah.

Para pejabat AS mengakui insiden memalukan itu. Menurutnya, para peretas menguasai akun itu sekitar 30 menit dan hal itu sangat memalukan meski tidak berdampak kuat.

Namun demikian, Biro Penyelidik Federal (FBI) berjanji akan menyelidiki kejadian itu.

Juru Bicara Departemen Pertahanan AS, Steve Warren mengatakan pihaknya memandang hal itu sebagai aksi tidak beradab.

"Kejadian itu membuat kami tidak nyaman, sangat menjengkelkan. Namun tidak ada isu sensitif dan rahasia yang terbuka," ujar Warren kepada wartawan sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (13/1/2015).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peretas ISIS

Sumber : Reuters

Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top