Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gajah Berkalung GPS Ditemukan Mati di Riau

Seekor gajah sumatera liar yang dipasangi kalung GPS (Global Positioning System) ditemukan mati di tengah perkebunan kelapa sawit milik masyarakat, di Desa Tengganu Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 09 Desember 2014  |  17:54 WIB
Gajah mati - Antara
Gajah mati - Antara

Bisnis.com, RIAU—Seekor gajah sumatera liar yang dipasangi kalung GPS (Global Positioning System) ditemukan mati di tengah perkebunan kelapa sawit milik masyarakat, di Desa Tengganu Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

"Iya, ini adalah gajah yang dipasang kalung GPS oleh BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) dan WWF (LSM lingkungan). Penyebab kematian kami belum tahu pasti, tapi dari BBKSDA sudah melakukan otopsi," kata anggota Himpunan Penggiat Alat (Hipam) Zulhusni Sukri, ketika dihubungi dari Pekanbaru, Selasa.

Ia mengatakan gajah tersebut sekitar sebulan lalu masih terpantau sehat, namun beberapa hari terakhir sinyalnya yang terpantau dari kalung GPS tidak cukup kuat untuk mendeteksi lokasi satwa bongsor itu.

Terakhir kali saat hidupnya, Zulhusni mengatakan gajah berkelamin betina itu terdeteksi berada di rawa-rawa sebelum akhirnya ditemukan mati di perkebunan sawit warga di Desa Tengganu pada Senin malam (8/12).

Warga langsung melaporkan penemuan gajah mati itu ke BBKSDA, dan menurut Zulhusni petugas BBKSDA langsung melakukan otopsi pada malam hari setelah laporan tersebut diterima. "Kalau untuk tanda-tanda mati racun kami belum tahu pasti," ujarnya.

Ia mengatakan, gajah malang tersebut diperkirakan berusia 30 tahun yang merupakan kelompok kawanan yang terdiri dari 11 ekor gajah liar. Gajah tersebut diperkirakan sudah mati sekitar lima hari lalu, dan kondisi badannya mulai membusuk.

Ia mengatakan lokasi gajah tidak jauh dari Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja yang kondisinya kini sudah rusak karena berganti menjadi permukiman dan kebun kepala sawit.  Zulhusni mengatakan hingga kini bangkai gajah tersebut masih berada di tengah perkebunan dan belum dikubur.

"Kami masih menunggu instruksi BBKSDA untuk mengubur gajah ini, karena kalau tidak dilakukan dengan benar akan membuat konflik dengan masyarakat sekitar," ujarnya.

Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari BBKSDA Riau mengenai hasil otopsi terkait indikasi awal penyebab kematian gajah Sumatera itu.

Kematian gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus), daftar kematian gajah di Riau kini mencapai 46 ekor dalam kurun tiga tahun terakhir sejak 2012. Selama tahun 2014 ini, berarti sudah ada 16 kasus kematian gajah yang sebagian besar tidak wajar.

Meski begitu, tidak ada satu pun dari puluhan kasus kematian gajah tersebut bisa diungkap oleh BBKSDA Riau untuk mendapatkan pelakunya. (Antara)

Sedangkan, selama 2012-2014, Indonesia telah kehilangan 91 individu gajah sumatera karena mati di Aceh, Riau dan Lampung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gajah

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top