Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEMARAU: Turbin di Waduk Saguling Terancam

Akibat kemarau yang mulai melanda wilayah Bandung Raya, tinggi permukaan air di Waduk Saguling dan Cirata, Kab Bandung Barat mengalami penurunan hingga 8 meter.
Herdi Ardia
Herdi Ardia - Bisnis.com 24 September 2014  |  14:20 WIB
KEMARAU: Turbin di Waduk Saguling Terancam
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG - Akibat kemarau yang mulai melanda wilayah Bandung Raya, tinggi permukaan air di Waduk Saguling dan Cirata, Kab Bandung Barat mengalami penurunan hingga 8 meter.

General Manager Unit Bisnis Pembangkit Waduk Saguling PT Indonesia Power Del Eviondra mengatakan saat ini ketinggian air di waduk terus mengalami penyusutan dan menyentuh ketinggian 634 meter dari ketinggian permukaan air mencapai 640 meter.

"Sisa 12 meter lagi atau 622 meter dari elevasi rencana minimum penggunaan air untuk mengoperasikan turbin di Waduk Saguling," katanya, kepada Bisnis, Rabu (24/9/2014).

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), November mendatang potensi hujan akan dimulai. Itu artinya, pengisian waduk pun akan kembali terjadi.

Tapi, dengan kondisi alam saat ini dimana ada perubahan iklim global telah membuat musim menjadi tidak menentu termasuk hujan kerap terjadi meskipun masih memasuki musim kemarau.

"Kenaikan waduk baru bisa terjadi sebulan setelan hujan terjadi. Kemarin [Selasa/23/9] sejumlah wilayah di Bandung hujan," ujarnya.

Dengan kata lain, dirinya menegaskan bahwa November-Maret menjadi periode puncak produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Selama musim kemarau ini, PLTA hanya dijadikan andalan untuk memasok listrik pada pukul 17.00-22.00 WIB.

Di musim kemarau seperti saat ini, PLN sudah mengantisipasinya dengan mengandalkan keberadaan pembangkit berbasis gas, minyak dan batubara.

Menurutnya, dari empat mesin pembangkit yang ada, PLTA Saguling hanya mengoperasikan dua mesin yang menghasilkan 350 MW.

"Denga minimnya hujan pun membuat limbah yang masuk bersama minimnya air telah membuat tingkat korosi pada turbin semakin besar. Akibatnya, pemeliharaan rutin perlu dilakukan," ujarnya.

Tak hanya pencemaran limbah kimia baik rumah tangga dan pabrik yang telah menyebabkan korosi pembangkit yang beroperasi sejak 1985 tersebut, tapi juga tingginya sedimentasi.

Untuk menjaga keandalan turbin, pihaknya melakukan sejumlah langkah. Di antaranya menyortir sampah yang bercampur dengan debit air yang mengalir deras ke waduk.

Setiap bulan, pihaknya mengangkat sampah sebanyak 100 ton atau 1,2 juta ton per tahun. Di samping itu secara berkala pihaknya melakukan pembersihan eceng gondok yang ada di sekitar waduk.

"Kami melakukan pencegahan penumpukan sampah di sisi masuk waduk dengan bekerjasama dengan koperasi masyarakat setempat dengan mencarikan potensi ekonomi sampah seperti sampah plastik," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemarau waduk
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top