Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perokok Berkurang, Japan Tobacco Turun Laba 17%

Japan Tobacco Inc, produsen rokok terdaftar terbesar di Asia, mengatakan kemungkinan penurunan laba hingga 17% tahun ini karena biaya restrukturisasi bisnis domestik dan penurunan keuntungan dari penjualan real estat.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 25 April 2014  |  06:00 WIB
Saham Japan Tobacco turun 0,8% menjadi  3.327 pada penutupan perdagangan di Tokyo kemarin.  - bisnis.com
Saham Japan Tobacco turun 0,8% menjadi 3.327 pada penutupan perdagangan di Tokyo kemarin. - bisnis.com

Bisnis.com, TOKYO - Japan Tobacco Inc, produsen rokok terdaftar terbesar di Asia, mengatakan kemungkinan penurunan laba hingga 17% tahun ini karena biaya restrukturisasi bisnis domestik dan penurunan keuntungan dari penjualan real estat.

Perseroan memproyeksikan laba bersih akan menurun sampai 370 miliar yen (US $3,6 miliar) dalam 12 bulan yang berakhir Desember dari ¥ 443,6 miliar tahun sebelumnya, katanya dalam sebuah pernyataan kepada bursa Tokyo kemarin. Penjualan diproyeksikan naik 2,4% menjadi 2,43 triliun yen.

Japan Tobacco memangkas pekerjaan dan menutup pabrik-pabrik seiring dengan restrukturisasi perusahaan yang berbasis di Tokyo ini di tengah berkurangnya perokok.

Volume penjualan tembakau pasar domestik turun 3,5% volume tahun ini dari capaian pada 2013, karena harga yang lebih tinggi dan peningkatan pajak penjualan, demikian pernyataan perusahaan.

Japan Tobacco telah mengalokasikan dana restrukturisasi di pasar domestic tahun ini senilai ¥ 54 miliar dan memproyeksikan penurunan laba penjualan real estat 47 miliar yen, demikian Presiden Mitsuomi Koizumi di Tokyo, kemarin.

Japan Tobacco mengatakan pada Oktober akan memangkas 1.600 pekerjaan dan menutup empat pabrik di Jepang untuk meningkatkan daya saing dalam negeri dan profitabilitas.

Perusahaan menaikkan harga domestik untuk sebagian besar merek rokok sebesar 10 yen atau 20 ¥ paket mulai bulan ini , karena pungutan pajak penjualan nasional yang naik menjadi 8% dari 5% efektif 1 April.

Perokok Berkurang

Perokok di Jepang turun menjadi 20,9% dari populasi pada 2013. Pada 2009, populasi perokok mencapai 24,9%, menurut situs Japan Tobacco. Berkurangnya jumlah perokok ini karena pajak rokok yang meningkat dan konsumen yang makin sadar kesehatan. Populasi yang menurun di Jepang mengikis pasar domestik perusahaan.

Sementara itu, depresiasi mata uang di pasar negara berkembang menempatkan tekanan pada keuntungan bisnis tembakau di luar negeri, yang menyumbang sekitar setengah dari penjualan Japan Tobacco.

Rubel Rusia jatuh sekitar 12% terhadap dolar AS pada tahun yang berakhir Maret di tengah meningkatnya ketegangan antara negara Rusia dan Ukraina atas situasi di Krimea. Rusia merupakan pasar luar negeri terbesar Japan Tobacco.

Volume penjualan tembakau di luar negeri Jepang turun 4,6% pada 2013, sementara itu penjualan di dalam negeri naik 3,3% pada tahun fiskal lalu, menurut pernyataan perusahaan, kemarin.

Nomura Holdings Inc menurunkan proyeksi laba operasional untuk pembuat tembakau 2,5% menjadi 546 miliar yen untuk 9 bulan yang berakhir Desember karena melemahnya mata uang emerging - market, demikian sebuah catatan penelitian 14 April.

Saham Japan Tobacco turun 0,8% menjadi ¥ 3.327 pada penutupan perdagangan di Tokyo kemarin, sebelum pengumuman. Saham telah turun 2,7% tahun ini, dibandingkan dengan penurunan 11% dalam indeks Topix patokan Jepang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok

Sumber : Bloomberg

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top