Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Depresiasi Rial Tak Sejalan dengan Perbaikan Ekonomi Iran

Depresiasi rial, mata uang Iran, beberapa pekan ini tidak memberikan keuntungan terhadap pertumbuhan ekonomi negara yang mengalami isolasi ekonomi akibat sanksi dari Amerika Serikat ini.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 21 April 2014  |  18:25 WIB
/alarabiya
/alarabiya

Bisnis.com, DUBAI—Depresiasi rial, mata uang Iran, beberapa pekan ini tidak memberikan keuntungan terhadap pertumbuhan ekonomi negara yang mengalami isolasi ekonomi akibat sanksi dari Amerika Serikat ini.

Menurut data yang dikompilasi oleh Daily Rates for Gold Coins & Foreign Currencies, rial melemah menjadi 32.000 rial terhadap dolar AS pada pukul 12 PM di Tehran Minggu (20/4/2014) dari Sabtu (19/4/2014) yaitu 31.750 per dolar AS. Pelemahan itu menambah rekor depresiasi rial sejak 12 April tahun ini sekitar 3,75%.

“Fluktuasi rial tidak sejalan dengan indikasi positif pertumbuhan ekonomi Iran,” kata Gubernur Bank Sentral Iran Valiollah Seif di Tehran, Minggu (20/4/2014).

Depresiasi rial tersebut, ungkapnya, mencerminkan pendapat yang tidak didasari oleh informasi yang benar dan memicu volatilitas jangka pendek.

Mengutip koran lokal Donya-e-Eqtesad, merosotnya rial diakibatkan oleh spekulasi terkait kurangnya pasokan mata uang asing di Iran.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri masih memiliki aset yang bernilai sekitar US$2,55 miliar dari total aset US$4,2 miliar. Aset tersebut masih disimpan di bank sentral Iran dan segera dicairkan dalam waktu dekat.

Aset sisanya masih dibekukan sebagai bagian dari upaya dunia Barat yang menjatuhkan sanksi bagi Iran akibat aktivitas nuklir negeri tersebut.  

Untuk menghentikan aktifitas nuklir Iran, Amerika Serikat, Rusia, dan Uni Eropa sepakat untuk menjatuhkan embargo ekonomi. Sebagai gantinya, Barat akan memberikan bantuan senilai US$7 miliar untuk mengompensasi kerugian Iran selama 6 bulan penjatuhan sanksi ekonomi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran nuklir iran

Sumber : Bloomberg/Reuters

Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top