Hampir Semua Kota di Asean Tercemar Polusi

Secara umum, kota-kota di wilayah Asean menghadapi permasalahan yang sama, seperti pencemaran udara dari industri dan kendaraan bermotor.
Choirul Anam | 02 Maret 2014 18:47 WIB
Ilustrasi/Limbah laut

Bisnis.com, MALANG -- Hampir semua kota di wilayah Asean tak lagi memiliki udara yang bersih.

Secara umum, kota-kota di wilayah Asean menghadapi permasalahan yang sama, seperti pencemaran udara dari industri dan kendaraan bermotor, kurangnya infrastruktur pengolahan air baku dan pengelolaan limbah serta sampah yang belum memadai.

Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan tantangan perkotaan seperti kemiskinan, ekonomi dan permasalahan lingkungan masih terus meningkat.

“Karenanya perlu dicari solusi menuju pengelolaan perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Balthasar dalam rilisnya, Sabtu (28/2/2014).

Pernyataannya itu disampaikan dalam Seminar on Environmentally Sustainable City (HLS-ESC) yang berlangsung di Surabaya.

Tantangan ini diperberat dengan adanya dampak perubahan iklim dan keharusan mengakomodir kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati.

Salah satu solusi tantangan perkotaan adalah kerjasama mutualisme Asean seperti Asean Plus Jepang, untuk Lingkungan Kota Berkelanjutan.

Pengelola kota wajib untuk dapat memberikan ketersediaan air bersih, dan minum, udara bersih, ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyatnya.

Hal itu harus dipenuhi, walaupun banyak kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perkotaan seperti tidak konsistennya pelaksanaan tata ruang, tingginya pertumbuhan penduduk, dan peningkatan kebutuhan konsumsi dibandingkan dengan produksinya.

Beberapa upaya pemerintah Indonesia terkait environmentally sustainable cities, yakni penetapan beberapa tahapan untuk jaringan kerjasama antarkota, pertukaran pengetahuan di kalangan pemangku kebijakan dan sektor.

Seperti Kementerian Kehutanan untuk konservasi ruang terbuka hijau, Kementerian Perhubungan untuk konservasi energi dan Departemen Dalam Negeri untuk pasokan air terkait dan ruang terbuka hijau.

Sejalan dengan indikator kunci di “ESC Award” untuk Clean Land, Clean Water, Clean Air dan Biodiversity yang dianggap sebagai dasar yang kompetitif, Indonesia menghubungkan indikator ini dengan program yang ada seperti Adipura yang dikenal sebagai Clean and Green Cities Program.

Di Indonesia sudah ada dua kota yang mendapatkan “Environmentally Sustainable City Award” (ESC Award) yaitu Palembang pada tahun 2008.

Pada 2011 Kota Surabaya meraih ESC Award, Kota Banjarmasin mendapatkan sertifikat Clean Water, dan Makassar meraih sertifikat Clean Air.

Selain itu, Indonesia telah mengidentifikasi dan mereplikasi inisiatif masyarakat seperti bank sampah yang melakukan pemilahan sampah serta memasukan edukasi pemilahan sampah ke dalam pendidikan sekolah dan pembuatan kompos.

Surabaya kembali menjadi contoh kota berwawasan lingkungan di mana saat ini telah mengembangkan sistem persampahan yang baik dengan memiliki Super Depo.

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia memfasilitasi kerjasama antarkota dengan kota di negara lain seperti kerjasama Surabaya – Kitakyushu.

Bentuk kerjasama ini akan terus dikembangkan antara kota-kota lain di Indonesia dan kota-kota di negara lain.

Tag : lingkungan hidup
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top