Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gawat, Dua Satelit Tak Akur Laporkan Kondisi Titik Api Riau

Bisnis.com, PEKANBARU Hasil pencitraan satelit NOAA 18 dan satelit Terra & Aqua dalam dua hari terakhir menunjukan perbedaan hotspot yang sangat mencolok terkait kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 18 Februari 2014  |  11:18 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, PEKANBARU – Satelit memang tak bisa bohong, namun bukan berarti pencitraan mereka selalu akurat.

Hasil pencitraan satelit NOAA 18 dan satelit Terra & Aqua dalam dua hari terakhir menunjukan perbedaan jumlah titik panas atau hotspot yang sangat mencolok sebagai indikasi kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau.

Akibat perbedaan yang saling bertolak belakang itu, pengambil kebijakan sempat kebingungan.

"Data dari satu satelit menunjukan jumlah hotspot tidak ada, tapi asap masih pekat. Kami akhirnya memutuskan membuat data perbandingan dalam laporan yang biasanya hanya berpatokan pada NOAA 18, sekarang ditampilkan juga dari Terra & Aqua," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau di Pekanbaru, Selasa (18/2/2014).

Ia mengatakan sejak 16 Februari lalu pencitraan satelit NOAA 18 menunjukan tren penurunan drastis jumlah titik panas di Riau setelah sebelumnya terus terpantau puluhan hingga ratusan titik panas.

Pada hari itu, laporan pencitraan sekitar pukul 16.00 WIB menunjukan tinggal 1 titik panas.

Bahkan sehari setelahnya, ia mengatakan di Riau tidak ada sama sekali indikasi kebakaran lahan.

Hal itu didasarkan pada pencitraan satelit NOAA 18 menunjukan 0 atau nihil titik panas, dan hanya 1 titik panas di Sumatera.

Sedangkan pencitraan dari satelit Terra & Aqua menunjukan angka sebaliknya.

Pada tanggal 17 sekitar pukul 16.00 WIB, satelit tersebut memantau ada 120 titik panas di Sumatera dengan 81 titik di antaranya berada di Riau.

Jumlah titik panas di Riau dilaporkan hanya berkurang satu titik dari hari sebelumnya.

Karena adanya perbedaan yang mencolok tersebut ditambah kondisi di lapangan yang masih ada kebakaran, maka BPBD Riau memutuskan untuk menambahkan data Terra & Aqua dalam laporan mereka ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana sejak 18 Februari ini.

Kepala Divisi Data BNPB, Agus Wibowo, ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya sejauh ini belum akan terpengaruh untuk membuat pernyataan bahwa kebakaran lahan di Riau sudah bisa ditanggulangi dengan hanya berdasar pada tren penurunan drastis jumlah titik panas dari NOAA 18.

Ia menjelaskan, ada kemungkinan kondisi di lapangan yang membuat satelit NOAA 18 kurang optimal menangkap titik panas.

"Mungkin tak ada api hanya asap saja jadi tidak terdeteksi satelit, sehingga hotspot sedikit. Atau titik apinya kecil dan di bawah tanah," kata Agus.

Ia menjelaskan, alasan pemerintah Indonesia hanya berpatokan pada pencitraan satelit NOAA 18 dalam mengambil kebijakan terkait kebakaran lahan dan asap, karena negara-negara anggota Asean telah sepakat menggunakannya sejak 1993.

Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri badan meteorologi, klimatologi dan geofisika negara Asean, lanjutnya, mereka sepakat kerjasama ke depan akan mengacu pada satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) 18.

"Kerja sama itu diperkuat lagi pada 2003. Kerja sama itu tentang prediksi iklim dan cuaca, analisis data satelit termasuk juga hotspot akan pakai NOAA18," kata Agus.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru Slamet Riyadi, mengatakan bahwa BMKG lebih mengacu pada satelit Terra & Aqua karena Indonesia sudah memiliki ground receiver di Jakarta.

Dengan begitu, BMKG bisa mengolah lebih lanjut data satelit untuk memperkuat keakuratan data.

Sedangkan, pencitraan satelit NOAA 18 mengandalkan data yang disediakan Singapura.

"Karena itu, kami bisa yakin ketika tingkat keakuratan sudah di atas 81 persen, maka itu bukan lagi titik panas melainkan titik api atau kebakaran," ujarnya.

Ia menjabarkan, tingkat sensitivitas NOAA 18 terhadap titik panas pada siang hari mencapai 42 derajat Celcius dan 37 derajat pada malam hari.

Sedangkan Terra & Aqua dengan sensor Modis menangkap 47 derajat Celcius pada siang hari dan 42 derajat pada malam.

Kemudian, sensor kanal untuk kerapatan pancaran sinar NOAA 18 menggunakan enam kanal sedangkan Terra & Aqua sudah 36 kanal.

Dari resolusinya atau kemampauan jangkauan, NOAA 18 bisa mencapai 2 kilometer sedangkan Terra & Aqua 1 kilometer.

Ia menambahkan, NOAA 18 mengambil pemotretan hanya satu kali pada sekitar pukul 16.00-17.00 WIB. Sedangkan, Terra & Aqua bisa dua kali pada pagi pukul 10.00 dan sore hari sekitar 16.00-17.00 WIB. (Antara)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebakaran hutan
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top