Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Kutuk Kerusuhan Demo Buruh Garmen Kamboja

Amerika Serikat mengutuk kerusuhan di Kamboja dan mendesak semua pihak menahan diri setelah polisi melepaskan tembakan ke arah pekerja yang mogok dan menewaskan tiga orang.
Rustam Agus
Rustam Agus - Bisnis.com 04 Januari 2014  |  10:00 WIB
AS Kutuk Kerusuhan Demo Buruh Garmen Kamboja
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, WASHINGTON--Amerika Serikat mengutuk kerusuhan di Kamboja dan mendesak semua pihak menahan diri setelah polisi melepaskan tembakan ke arah pekerja yang mogok dan menewaskan tiga orang.

"Kami mengutuk kekerasan sebagai cara untuk mencapai tujuan politik atau yang lain dan mendesak semua pihak agar sepenuhnya menahan diri dan memperlihatkan penghormatan pada ketentuan hukum," kata wanita Juru Bicara Deplu AS Marie Harf, Jumat (3/1/2014)

Bentrokan berdarah, yang menewaskan tiga orang dan membuat beberapa orang lagi cedera, berkecamuk pada Jumat, ketika sebanyak 2.000 pekerja garmen melakukan protes di pinggiran Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh.

Itu adalah bentrokan keempat dalam waktu satu pekan antara pihak berwenang dan pemrotes yang menuntut kenaikan gaji.

AS sangat menyesalkan hilangnya nyawa pekerja dan mendesak pekerja, serikat pekerja, dan Pemerintah Kamboja agar bekerjasama ke arah penyelesaian damai silang pendapat ketenaga-kerjaan, kata Harf sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu (4/1/2014).

AS terlibat dengan pemerintah, pengusaha dan organisasi pekerja mengenai masalah tersebut, tambah wanita juru bicara itu.

Pemerintah Kamboja telah menutup semua pabtrik garmen dan sepatu sejak Rabu pekan lalu (25/12), setelah enam serikat pekerja pro-oposisi memimpin ribuan pekerja untuk mogok guna menuntut pemerintah menaikkan upah minimum bulanan dua kali lipat di sektor garmen jadi 160 dolar dari 80 dolar AS saat ini.

Pemerintah pada Selasa (31/12/2013) memutuskan untuk menaikkan upah minimum di sektor garmen menjadi 100 dolar dari 80 dolar per bulan saat ini. Namun keenam serikat pekerja pro-oposisi menolak tawaran itu dan berikrar akan melanjutkan pemogokan.

Negara Asia Tenggara tersebut memiliki 900 pabrik pakaian jadi dan sepatu yang mempekerjakan tak kurang dari 600.000 pekerja, kata Juru Bicara Kementerian Tenaga Kerja Heng Sour.

Industri itu, penghasil terbesar devisa kerajaan tersebut, menghasilkan devisa sebanyak US$5 miliar setiap tahunnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kamboja as

Sumber : Newswire/antara

Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top